Tiket Ke Kota Yang Belum Pernah Ku Dengar
Arifin
Ia memberiku tiket
“Berangkatlah,” pesannya singkat
Aku mengernyitkan dahi, “Kota mana ini?” ujarku dalam hati
Jalanan diselimuti hujan
Malam telah tiba
Ketika bus yang mengantarkanku berangkat

Aku tertidur dalam perjalanan
Hal-hal yang ku tinggalkan di belakang
Perjalanan masih berlangsung
Cemasku mulai tumbuh, bertunas
Dari satu pikiran ke pikiran lainnya
Membayangkan kemungkinan terburuk di kota yang tak ku kenali itu
“Kau perlu berangkat ke sana, untuk mengetahui titik butamu,” katamu padaku sebelum berangkat tadi
“Bagaimana jika aku tersesat?”
“Kehilangan arah,” tuturku beruntun
“Kau perlu lebih lama menatap langit. Dan jawaban mungkin baru kau temui kemudian, bukan hari ini atau esok,” jawabmu berfilsafat