Orang Dengan Arloji Lebih Dari Satu
Arifin
Hujan datang di kota
Cucian masih terbentang
Jalanan becek
Payung lupa terbawa
Menunggulah di halte bus
Ku lirik arloji
Hujan dapat memperlambat tiba

Aku bertemu dengan orang itu, lagi
Orang dengan arloji lebih dari satu dipakai
Aku berasumsi di kepala
Arloji itu bergerak dengan cara yang berbeda
Ada yang lamban, ada yang terlalu cepat, ada yang dalam irama ketukan
Arloji yang menunjukkan waktu yang berbeda-beda
Di tangannya tergenggam tiket ke berbagai jurusan
“Seperti hidup bukan?” matanya menemukan mataku
“Tiap orang punya waktunya masing-masing,” suaranya berat namun nyaman di kuping
“Seperti hidup bukan?” matanya menyelidiki mataku
“Tiket-tiket ini seperti kesempatan, kemungkinan, pengulangan,” ia melanjutkan kalimat
“Rute yang untuk sekian lama ditempuh. Akhirnya menemui ujung”
“Rute baru yang mencemaskan”
“Rute-rute yang membimbangkan di kepala”
“Tapi rute ada, untuk dijalani, untuk dicoba,” tuturnya
Busku datang
Aku menganggukkan kepala, seolah berkata, “Duluan ya”
Kali terakhir ku temui orang itu
Di hari-hari berikutnya tak ada lagi orang dengan arloji lebih dari satu dan tiket multitrip dalam genggaman
Namun, kata-kata orang itu masih bertalu-talu