Orang Dengan Arloji Lebih Dari Satu

July 28, 2025
Puisi

Arifin

Hujan datang di kota

Cucian masih terbentang

Jalanan becek

Payung lupa terbawa

             Menunggulah di halte bus

             Ku lirik arloji

             Hujan dapat memperlambat tiba

Aku bertemu dengan orang itu, lagi

Orang dengan arloji lebih dari satu dipakai

Aku berasumsi di kepala

             Arloji itu bergerak dengan cara yang berbeda

             Ada yang lamban, ada yang terlalu cepat, ada yang dalam irama ketukan

             Arloji yang menunjukkan waktu yang berbeda-beda

Di tangannya tergenggam tiket ke berbagai jurusan

             “Seperti hidup bukan?” matanya menemukan mataku

             “Tiap orang punya waktunya masing-masing,” suaranya berat namun nyaman di kuping

“Seperti hidup bukan?” matanya menyelidiki mataku

“Tiket-tiket ini seperti kesempatan, kemungkinan, pengulangan,” ia melanjutkan kalimat

“Rute yang untuk sekian lama ditempuh. Akhirnya menemui ujung”

“Rute baru yang mencemaskan”

“Rute-rute yang membimbangkan di kepala”

“Tapi rute ada, untuk dijalani, untuk dicoba,” tuturnya

             Busku datang

             Aku menganggukkan kepala, seolah berkata, “Duluan ya”

             Kali terakhir ku temui orang itu

             Di hari-hari berikutnya tak ada lagi orang dengan arloji lebih dari satu dan tiket multitrip dalam genggaman

              Namun, kata-kata orang itu masih bertalu-talu

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd