Tentang Ide Dan Merampungkan Tulisan 

January 27, 2023
Uncategorized

Arifin

Dari manakah ide suatu tulisan dapat datang? Rupa-rupanya ada begitu banyak jalan untuk mendapatkan ide awal. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana diri memantaskan diri untuk menyambut ide.

Ide dapat datang baik itu secara visual, auditori, kinestetik. Visual, misalnya ketika melihat suatu hal di perjalanan, dapat menjadi ide awal suatu tulisan. Pun begitu dengan auditori, dari berbincang-bincang. Menemukan sudut pandang orang lain, ranah pengetahuan yang sebelumnya belum kita ketahui, hal unik berbeda dari percakapan, dan sebagainya. Untuk kinestetik, embrio ide bisa didapatkan dengan aktif terlibat dalam suatu hal.

Lalu apakah ada ide yang rasa-rasanya kurang keren? Hal ini bisa jadi ditemukan ketika di tengah jalan pengerjaan, stuck dalam pengerjaan. Sebenarnya ide yang ada itu tentu dirakit dan dilengkapi kemudian. Yang terjadi bukanlah idenya yang kurang keren, melainkan kemampuan dalam mengolah ide yang perlu diperbaiki, serta disiplin dalam merampungkan suatu ide.

Penulis Dewi Lestari misalnya kala mengerjakan buku Rapijali. Ide awalnya sudah bercokol lama, lebih dari dua dekade. Lalu, seiring dengan kemampuan menulis, jam terbang menulis, serta disiplin dalam merampungkan idenya, akhirnya Rapijali menjadi cerita menarik.

Tentu antara ide, eksekusi ide, dari karya tersebut telah melalui sejumlah adaptasi serta disesuaikan dengan situasi zaman setting ceritanya.

Terkait ide, juga perlu diperhatikan tentang penuntasannya. Hal tersebut merupakan paduan dari bagaimana tata kelola waktu, kemampuan menulis, serta disiplin dalam mengerjakan. Terkait tata kelola waktu, di antaranya dengan menerapkan lini masa pengerjaan, membatasi waktu mengedit. Untuk kemampuan menulis, bisa diupayakan dengan menambah jam terbang menulis, mengikuti pelatihan, belajar dengan membaca karya orang lain.

Sedangkan untuk disiplin dalam mengerjakan, misalnya dengan menyediakan slot waktu tertentu dalam sehari untuk mengerjakan. Sebagai contoh, ada satu jam yang disiapkan khusus. Pada satu jam tersebut, kerjakanlah, eksekusi ide tersebut – baik mendapat berapa halaman atau hanya satu kalimat; baik ketika mood sedang tidak enak atau kala semangat berapi-api.

Disiplin dalam mengerjakan juga terkait dengan urgensi, serta penempatan pengerjaan itu dalam keseharian. Penulis Raditya Dika misalnya meletakkan hal tersebut sebagai kegiatan pertama yang dilakukannya pada pagi hari.

Lalu ada juga Dewi Lestari yang telah menulis 18 buku, ia mengistilahkannya dengan Filosofi Panci Presto. Memberi tekanan pada diri, menjadikan pengerjaan tulisan sebagai sesuatu yang harus dikerjakan. Dewi Lestari dengan Filosofi Panci Prestonya menjadikan menulis sebagai hal pertama yang dirinya kerjakan pada keseharian. 

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd