Mari Berfokus Pada Kekuatan Yang Anda Miliki
Arifin
Semalam saya menonton siaran televisi. Terdapat atlet difabel cabang olahraga tenis meja. Salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari tayangan tersebut menurut hemat saya yakni berfokus pada kekuatan.
Si atlet difabel tersebut berfokus untuk melatih satu tangannya yang masih dapat digunakan. Hingga ia pun menjadi terampil dan ahli bermain tenis meja.
Dalam beberapa kesempatan, saya pernah bertemu dengan orang-orang difabel dengan ragam prestasi. Ada yang berprestasi di bidang seni, olahraga, keterampilan, menulis, dan sebagainya. Tentu pada beberapa hal disabilitas tersebut dapat berpengaruh pada penyandangnya. Namun, dari obrolan saya dengan orang-orang tersebut, serta para support system-nya (seperti keluarga, lingkungan sekolah), mereka berfokus pada kekuatan, talenta, minat yang dimiliki.
Rasa-rasanya hal tersebut berlaku universal. Siapa pun tentu memiliki kelemahan. Si A mungkin jago di seni, tapi lemah di olahraga; sedangkan si B jago di olahraga, tapi lemah di seni. Maka, dibanding fokus melihat kelemahan, serta melihatnya sebagai “gelas yang belum/setengah terisi”, ada baiknya untuk menekuni talenta, minat, serta kekuatan yang dimiliki.
Hal tersebut secara praktik tentu perlu upaya. Di antaranya mencari tahu talenta, minat, serta kekuatan yang dimiliki. Bahkan untuk orang dewasa pun, bisa jadi untuk menelusuri talenta, minat, kekuatan, ini butuh waktu, ketekunan, niat dari diri sendiri, serta dukungan dari support system.
Lalu segala bakat, minat, kekuatan ini agar dapat “mekar” membutuhkan ekosistem serta wadah. Dengan media sosial, informasi yang semakin mudah diakses, semoga ekosistem dan wadah itu semakin dapat dijangkau.
Apa pun bakat, minat, kekuatan Anda, saya pun teringat lirik lagu Satu Kali dari penyanyi Tulus:
Kecil hanya sekali
Muda hanya sekali
Tua hanya sekali
Hiduplah kini
Hiduplah kini dengan mengupayakan secara saksama agar bakat, minat, kekuatan Anda “mekar” dan “berkembang”.