Mengeja Bersama Waktu
Arifin
Jam dinding yang berdetak, simultan
Kuala Lumpur, Jakarta, London, New York, Tokyo, Timbuktu, dan kota-kota atau di ujung desa itu
Ku lihat arlojiku, bergerak dengan caranya
Tiap kita punya waktunya masing-masing
Sama-sama menjalani hari, namun kitalah yang memilah dan memilih mau dibawa kemana 24 jam itu
Adakah kini adalah kini?
Atau digelayuti masa lalu?
Diayun bimbang cakrawala masa mendatang
Ada yang merasa waktunya tak pernah cukup untuk ini-itu
Ada yang merasa mengapa begitu lama jam ini berputar
Ada yang merasa tersia-siakan, lalu mengutuk jam pasir itu
Ada yang memupuk, lalu tumbuh bersama waktu investasinya
Ada yang mencari selama ratusan purnama
Ada yang menanti selama pergantian hari
Ada yang sudah menemukan dan hidup dengan turbulensinya
Ojo dibandingke
Ada yang mengeja bersama waktu
Ada yang berselancar dengan masa
Bersama masa, ada rupa-rupa rasa yang kita cicipi
Di lekuk waktu, kita tahu itulah bekal kita untuk di sini dan di sana