Yang Rutin Menangkap Ide & Mengeksekusinya
Arifin
Ide dapat datang dimana saja, kapan saja. Telahkah Anda rutin, telaten “menangkapnya”? Jika Anda berkiprah ataupun memiliki minat di ranah literasi, ada baiknya untuk membiasakan mencatat ide yang lalu lalang.
Ide dapat datang ketika membaca buku, menonton film, mendengar musik, bengong, berimajinasi, di perjalanan, berbincang dengan orang lain, dan sebagainya. Catat saja dahulu ide-ide awal itu. Lalu dapat dieksekusi menjadi tulisan.
Jika telah memiliki semacam “loker ide”, beberapa ide bahkan dapat dijalankan kemudian. Entah itu telah mendapatkan klik di kepala, ataupun menemukan ide yang kiranya dapat melengkapi dari catatan ide. Menyelami, mengutak-atik loker ide juga dapat menjadi jalan. Di samping itu riset, serta mencari tahu lebih intens, serta melihat berbagai perspektif dapat mengasah ide menjadi karya pada akhirnya.
Jika Anda berkiprah di musik, ide mengenai narasi kisah yang akan dibawakan, dapat dicatat terlebih dahulu. Pun begitu dengan petikan melodi, yang dapat disimpan di voice note.
Mengumpulkan ide merupakan tahapan dari karya. Yang lalu tak kalah pentingnya adalah menamatkan karya. Dari loker ide yang ada, marilah dieksekusi hingga tuntas. Dengan demikian barulah dapat dinilai, menjadi portofolio.
Jika sekadar ide-ide yang ada di kepala atau dicatatkan saja, maka belumlah usai tahapan dari suatu karya. Dengan menamatkan karya, maka ada kesempatan untuk mengujinya di publik. Mengetahui titik-titik celah, mendapatkan masukan. Kuantitas pengalaman dari usaha sebelumnya, menjadi guru terbaik untuk meningkatkan kualitas.
Dengan menamatkan karya, maka ada palagan yang dilampaui: keberanian untuk mencoba, trial and error, melakukan eksperimen dengan berbagai gaya karya.
Di samping itu ketika menggulirkan karya, terdapat branding, serta diingat pernah membuat sesuatu. Mengenai branding, serta diingat, memang membutuhkan waktu. Namun, bersabarlah dan terus perkuat portofoliomu dengan karya, karya, karya.