Belajar Obesitas Dari Dudley Di Kisah Harry Potter
Arifin
Dudley Dursley, darinya kita dapat belajar. Di antaranya mengenai obesitas. Adapun obesitas dapat didefinsikan sebagai penumpukan lemak yang berlebihan di dalam badan; kegemukan yang berlebih.
Hal tersebut dapat disimak pada bagian bawah halaman rapor Dudley, dimana terdapat komentar yang ditulis oleh perawat kesehatan sekolah. Isinya terkait obesitasnya Dudley serta perlunya ia melakukan diet.
Namun, menarik jika menilik hal berikut (Harry Potter dan Piala Api, halaman 42):
…Tak peduli betapa serunya Bibi Petunia meratap bahwa Dudley bertulang besar dan bahwa berat badannya itu sebetulnya karena lemak-bayinya, dan bahwa dia anak yang sedang tumbuh yang memerlukan banyak makanan, kenyataannya tetap saja tak ada lagi seragam sekolah yang muat untuknya. Perawat sekolah itu telah melihat apa yang ditolak dilihat oleh mata Bibi Petunia…yaitu bahwa jauh dari membutuhkan gizi ekstra, Dudley telah mencapai ukuran dan berat ikan paus pembunuh yang masih muda.
Ada beberapa poin yang menurut hemat saya menarik untuk ditelusuri dari kutipan tersebut. Yang pertama, terkadang dibutuhkan “mata lainnya”, pendapat pakar yang mengerti. Pada kasus Dudley, perawat kesehatan sekolah yang menjadi “mata lainnya”. Pendapat profesional dari si perawat kesehatan sekolah akhirnya membuka mata Paman Vernon dan Bibi Petunia bahwa Dudley mengalami obesitas.
Hal ini pun dapat berlaku dalam konteks lainnya, termasuk di Anda maupun di saya. Obesitas dapat didiagnosis oleh ahli medis dan diklasifikasikan ketika seseorang memiliki indeks massa tubuh (BMI) dengan angka 30 atau lebih.
Seperti dilansir halodoc, rumus yang dapat digunakan untuk menghitung BMI adalah menggunakan sistem metrik pengukuran, yaitu berat badan dalam kilogram (kg) dibagi dengan tinggi dalam meter dikuadratkan. Sebagai informasi, untuk populasi Asia, seseorang mengalami obesitas jika BMI-nya berada di atas angka 25.
Dari contoh kasus Dudley tersebut, juga terpetakan bahwa bisa terjadi miskonsepsi. Obesitas adalah obesitas – jika merujuk pada data kesehatan. Terkadang miskonsepsi itu dikarenakan rasa sayang pada anak. Rasa sayang yang “kurang sehat” karena output-nya anak mengalami obesitas. Maka dengan demikian orang tua pun perlu memiliki bekal ilmu, pengetahuan, sehingga cintanya pun “sehat”, dengan memperhatikan tumbuh kembang anak secara optimal.