Puitis Sejak Dari Keluarga 

April 18, 2023
Uncategorized

Arifin

Dari lagu kita dapat menimba banyak ilmu. Di antaranya merupakan ilmu bahasa. Dari Tulus, Iga Massardi, lirik yang mereka buat memiliki daya pikat yang memantik.

Kita seakan diingatkan mengenai pesona bahasa, kemampuan artikulasinya, daya tuturnya yang kuat. Termasuk dalam penggunaan bahasa yang tepat. Dikarenakan seperti diungkap Uksu Suhardi pada buku Celetuk Bahasa 2, “Orang yang tertib berbahasa kadang seperti sepeda motor di Jakarta yang berhenti sebelum garis penyeberangan: Malah dianggap aneh.”

Dari mana daya tutur Tulus serta Iga mewujud? Ada peran lingkungan yang membentuknya. Pada Mata Najwa, Tulus mengungkap bagaimana latar dirinya yang merupakan keluarga besar Minangkabau yang lekat dengan olah bahasa turut membentuk daya bahasanya.

“Saya menemukan ada satu keunikan, bahasa-bahasa yang biasa digunakan di rumah, ketika saya kecil, itu kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, itu tuh banyak sekali menjadi kata-kata atau kalimat-kalimat yang rasanya baru, tapi mudah dipahami,” ungkap Tulus.

Tulus mencontohkan dengan kata ‘Sewindu’. Menurutnya diksi ‘sewindu’ telah sering dipakai di rumahnya. “Kalau dulu di rumah, seringnya ngomongnya gini, ‘kamu kuliahnya yang rajin, biar jangan sampai sewindu’,” terang Tulus.

Penggunaan kalimat tersebut sering dipakai sebagai candaan, bahan tertawa, namun ketika dieksekusi ke dalam lirik lagu menjadi terasa kayak baru, tapi enggak baru. Pemilihan diksi sewindu tersebut diterima publik sebagai kata yang puitis, singkat namun memikat.

Peran keluarga juga diserap oleh Iga Massardi yang identik dengan band Barasuara. Iga mengaku kebiasaan membaca ditularkan sang ayah, sastrawan Yudhistira ANM Massardi, kepadanya sejak kecil.

Seperti dikutip dari harian Kompas, Menyinggung lagu-lagu Barasuara, lirik dan judulnya kerap disebut-sebut puitis dan sastrawi. Bagi Iga yang sering menulis lirik justru tak merasa demikian. Hingga pada suatu titik, ia menyadari pengaruh besar dari lingkungannya bertumbuh. Keseharian melihat puisi dan sajak ayahnya yang berada dalam bingkai di tiap sudut rumah membuat dia secara tak sadar memiliki gaya penulisan tersendiri.

Sementara itu kompetensi literasi dan numerasi diyakini sebagai kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang dan bekal anak nantinya. Jika merujuk pada contoh kasus dua seniman tersebut, baik Tulus maupun Iga, terdapat peran keluarga yang turut menyokong, mendukung kemampuan literasi mereka. Bagaimana dengan lingkup keluarga kita, telahkah menyiapkan lingkungan ramah literasi?

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd