Apakah Ide Tulisan Hal Yang Harus Ditunggu?
Arifin
‘Belum dapat ide, idenya kurang bagus’ – bisa jadi hal tersebut menjadi pernyataan yang kerap kali diungkapkan. Apakah ide tulisan hal yang harus ditunggu? Sebuah “berkah” dari Ilahi untuk menghadirkan ide tertentu.
Menurut hemat saya, ide tulisan harus dijemput, diupayakan, diperjuangkan. Memang pada momentum tertentu, diri bisa mendapat ide tulisan yang sepertinya wow keren betul. Namun, bukankah ketika mengeksekusinya dibutuhkan kerja-kerja intens, termasuk menuntaskannya.
Ide saja tak cukup, melainkan harus dihantarkan hingga usai. Maka sering-seringlah menamatkan tulisan Anda. Dengan begitu ide-ide yang ada dapat dieksekusi, dinilai, mendapatkan feedback. Dibanding masih ide, perencanaan, namun pada akhirnya sekadar wacana cerita saja.
Jika merujuk pada konsep Atomic Habits dari James Clear maka mengumpulkan gagasan menulis tergolong In Motion (membuat rencana dan menyusun strategi). In Motion dapat membuatmu merasa telah mengerjakan sesuatu. Padahal, sesungguhnya Anda hanya baru bersiap. Namun persiapan tersebut seringkali jadi cara untuk ‘menunda’.
Masih dari Atomic Habits, mari lakukan action (tindakan yang membuahkan hasil). Contohnya dengan menulis setiap hari.
Ide tulisan yang dijemput, diupayakan, diperjuangkan – di antaranya dengan senantiasa “menangkapnya”. Entah itu berupa catatan, ataupun ada dapat merekam via voice note mengenai ide tersebut. Milikilah bank ide tulisan.
Persiapkan diri Anda juga untuk “menyambut” ide tersebut. Baik dalam hal keterampilan menulis – hal ini di antaranya dapat diupayakan dengan jam terbang menulis; melakukan riset lanjutan dari ide dasar tersebut; mengalokasikan waktu untuk mengerjakannya; menyiapkan fisik (ya, menulis perlu juga sehat secara jiwa dan raga).
Untuk riset dari ide dasar tersebut, Anda dapat langsung datang ke lokasi tertentu, studi pustaka, mencari narasumber yang sesuai. Pada beberapa hal, datang ke lokasi yang pas dengan konteks ide tulisan dapat worth it. Mengapa? Dikarenakan indra Anda akan menangkap berbagai informasi itu secara langsung. Itulah mengapa jurnalisme lapangan, dimana penulisnya terjun ke lokasi peristiwa – hasil tulisannya dapat lebih kaya, berwarna, hidup, dramatis.