Menapaki Australia Dengan Pengalaman Seni Imersif Di Museum Sejarah Jakarta

July 12, 2023
Uncategorized

Arifin

Museum Sejarah Jakarta bekerja sama dengan National Museum of Australia menghelat pameran ‘Walking Through a Songline’. Pengalaman seni tersebut diciptakan oleh Mosster Studio dalam bentuk pameran pemenang penghargaan Museum Nasional Australia ‘Songline: Tracking the Seven Sisters’.

Pengalaman seni yang imersif, yang memberikan wawasan tentang songline Aborigin Australia dan menjelalahi bagaimana sebuah benua telah dipetakan untuk dan oleh masyarakatnya selama ribuan tahun.

Songline, atau jalur Dreaming, adalah rute pengetahuan yang melintasi benua dan membentuk sejarah fundamental Australia. Mereka memetakan rute dan aktivitas sosok pencipta leluhur, yang menanamkan kisah-kisah tersebut dalam karakteristik-karakteristik wilayah. Songline utama membentang menjangkau benua, sementara songline yang lebih terlokalisasi hanya menghubungkan beberapa wilayah.

Seperti halnya puisi-puisi epik dalam tradisi lisan besar di seluruh dunia, songline merupakan cara untuk menyimpan dan mewariskan pengetahuan dalam masyarakat yang tidak berbasis naskah tulisan. Akses terhadap pengetahuan ini berkisar dari versi publik hingga versi rahasia/sakral atau tertutup, yang hanya tersedia bagi para penjaga yang paling senior.

Songline menjelaskan penciptaan dan meneruskan nilai-nilai budaya, termasuk peraturan perilaku dan cara hidup berkelanjutan di benua ini, seperti yang telah dilakukan oleh penduduk Bangsa Pertama Australia selama ribuan tahun.

Dengan menyematkan informasi tersebut ke dalam cerita, pertunjukan dan seni, seluruh benua telah dipetakan oleh dan untuk masyarakatnya dan akan tetap dikenang dari generasi ke generasi.

Sementara itu Walking Through a Songline menggambarkan pengalaman seperti saat terhanyut dalam sebuah lagu. Seven Sisters songline memvisualisasikan sebuah cerita yang berganti seiring perubahan negeri di seluruh benua dan tempat dari berbagai kelompok berbeda. Ini juga merupakan drama universal yang dimainkan di langit malam, yang terlihat di konstelasi Orion dan gugus bintang Pleiades.

Kisah ini dimulai di Gurun Barat, di Negeri Martu, di mana sekelompok saudari diburu oleh seorang penyihir penuh ambisi yang sedang mencari istri.

Seorang penyihir yang bisa berubah bentuk, ia menggunakan banyak penyamaran untuk mengelabui para saudari dan memikat mereka agar dia bisa mengganggu mereka. Dia dapat berubah menjadi makanan lezat, air, pohon yang rindang, atau ular yang berair untuk menggoda para saudari yang lapar.

Namun, para saudari juga dapat berubah bentuk, menggoda dan membuat marah pengejarnya serta menciptakan songline saat mereka berlari dan terbang.

Dalam pengejaran melintasi wilayah Anangu Pitjantjatjara Yankunytjatjara (APY) dan Ngaanyatjarra, bahasa berubah ketika para saudari melarikan diri melintasi Negeri yang berbeda. Aktivitas mereka terekam dalam karakteristik-karakteristik wilayah, seperti komposisi bebatuan dan kubangan air, serta langit malam.

Mengikuti pameran Walking Through a Songline bak mengikuti para saudari perempuan saat mereka melakukan perjalanan melintasi gurun pasir dan melintasi langit, memetakan Negeri selama ribuan tahun yang akan datang. Pameran Walking Through a Songline akan berlangsung hingga 23 Juli 2023 di Museum Sejarah Jakarta. Cukup membayar tiket masuk museum untuk berangjangsana ke pameran dalam bentuk instalasi digital multisensori ini.

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd