Mengapa Sulit Mengubah Kebiasaan Kurang Baik?
Arifin
Dan terjadi lagi. Maksud hati ingin mengubah kebiasaan kurang baik ataupun kebiasaan buruk, namun pada tindakan, hal tersebut kembali diulangi.
Memang sebegitu susahnya untuk mengubah kebiasaan kurang baik ataupun kebiasaan buruk itu? Jawabannya bisa iya. Karena ketika telah menjadi kebiasaan, apalagi karakter, maka diperlukan daya untuk melakukan perubahan.
Salah satu pernyataan yang telah kerap wira-wiri, serta teramat mungkin diingat yakni dari Bung Hatta, “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur sulit diperbaiki”. Hal tersebut sekaligus menjelaskan mengenai kebiasaan, yang untuk kemudian telah menjadi karakter. Alhasil yang kejadian adalah ‘dan terjadi lagi’.
Lantas, apakah berarti hal tersebut tidak dapat diperbaiki, tidak dapat diubah? Jika merujuk pada buku Atomic Habits karya James Clear, mengapa sukar berhenti dari kebiasaan buruk, salah satu penyebabnya karena kita tidak langsung menerima konsekuensi dari kebiasaan-kebiasaan kurang baik. Ada jarak antara tindakan dan konsekuensi.
Cobalah untuk mendaftar aneka kebiasaan kurang baik yang bisa jadi masih melekat, misalnya masih sering dan gemar makan junk food, kurang aktif bergerak, dan sebagainya. Hal tersebut teramat mungkin masih dilakoni, karena diri belum menerima konsekuensinya. Ya, terkadang seperti “silent”, lalu terakumulasi.
Maka salah satu “rambu” untuk mengetahui apa-apa yang mesti dipantau yakni dengan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan (medical check up). Dengan begitu akan terpantau, terdeteksi, apa-apa saja faktor risiko yang dimiliki serta tindakan apa yang baiknya dihindari dan dilakukan.
Lalu, ada hikmah pula dengan ajaran untuk menjenguk orang yang sakit. Dengan menjenguk, kita yang sehat, akan melihat dan sedikit banyak merasakan sukarnya kala sakit. Sakit yang terjadi dapat karena kebiasaan kurang baik, kebiasaan kurang sehat – lalu bagi yang masih sehat yang menjenguk, dapat menjadi momentum untuk refleksi. Dari refleksi menjadi aksi untuk melakukan perbaikan pada kebiasaan harian.