Mekarnya Empati Dengan ‘Merasa Tanpa Melihat’
Arifin
Pernahkah Anda terpikir bagaimana kiranya menjadi disabilitas? Pada Pekan Kebudayaan Nasional di akhir Oktober lalu menarik adanya di Museum Bank Indonesia (MuBI) dihelat “Merasa Tanpa Melihat”.
Pada “Merasa Tanpa Melihat”, sejumlah kegiatannya yakni Blind Tour Adventure (kamu bisa ngerasain jelajah MuBI dengan mata tertutup dan dipandu langsung oleh tour guide tunanetra); Coffee Brew by The Blind (membuat kopi tanpa melihat? Proses pembuatannya dapat disaksikan); Pijat Refleksi (pijat refleksi dari sahabat tunanetra); Seminar Growth Mindset (belajar pola kesuksesan dari konselor tunanetra pertama Indonesia); Workshop Braille (belajar membaca huruf Braille).
Budaya inklusif dapat terjadi karena interaksi serta saling pengertian. Dalam hal ini menurut hemat saya, event semacam “Merasa Tanpa Melihat” layak diapresiasi. Bagi nondisabilitas, dapat “merasakan langsung” bagaimana rasa terbatasnya apa yang dilihat melalui Blind Tour Adventure.
Untuk perihal membaca pun, nondisabilitas akan merasakan melalui Workshop Braille. Bahwa tunanetra dengan adanya huruf Braille memungkinkan mereka untuk membaca aneka ilmu.
Perihal berada dalam perspektif penyandang disabilitas juga pernah saya dapatkan pada seminar terkait dengan difabel beberapa tahun lalu. Pada paparannya diperlihatkan tampilan visual di mata seorang low vision ketika sedang melihat objek.
Empati dengan merasakan dari perspektif penyandang disabilitas, dapat menjadi pencegah tindakan bullying, serta nondisabilitas dapat turut menyokong timbulnya lingkungan yang mendukung berdayanya para difabel.