Menulis Adalah Mengamati
Arifin
Membaca sejumlah karya tulis yang menjangkau banyak pembaca, seolah begitu hidup dan nyata apa yang diceritakan. Apa pasal hal tersebut dapat terjadi? Menurut hemat saya, salah satu hulunya adalah kemampuan si penulis untuk mengamati.
Sebelum menjadi karya tulis, ambil contoh novel, cerita pendek (cerpen); penulis memiliki pengetahuan baik yang tersirat maupun tersurat. Hal yang dapat diperoleh melalui pengamatan intensif. Lalu, pengetahuan tersirat dan tersurat itu dieksekusi melalui kalimat percakapan, penggambaran suasana, hingga gestur para tokoh.
Sebagai contoh di novel yang memiliki banyak karakter, maka penulis mampu menghadirkan warna, identitas dari para karakter yang beragam tersebut. Maka dalam menghadapi situasi tertentu, pembaca pun terbawa dengan emosi, logika, pilihan yang dilakukan karakter dalam novel.
Karakter yang beragam dalam novel itu dapat teridentifikasi di percakapan. Dari diksi yang dipilih, perangai perilaku dalam gestur yang digambarkan. Maka berbeda kiranya karakter A, karakter B, karakter C, dan seterusnya.
Menulis adalah mengamati, maka si penulis melakukan riset dengan fakta dan data yang ada. Untuk lebih presisi, penulis dapat hadir di latar cerita yang dimaksud, melakukan wawancara guna mendukung riset penulisan.
Awal mula ide cerita pun bisa lahir dari pengamatan. Lalu terbentuk premis dasar dan utama. Perlahan-lahan ide, konflik, bungkus cerita dilakukan, hingga menjadi karya yang utuh.
Bila Anda berminat menjadi penulis, maka sering-seringlah mengamati. Dengan begitu ada amunisi bahan. Lalu, tentu saja mewujudkan hasil amatan tersebut melalui sejumlah karya tulis. Sebuah pesan dari juru cerita Seno Gumira Ajidarma dapat membesarkan hati mereka yang senantiasa mencoba menulis, “Di antara seribu tulisan, pasti ada yang terbaik.”