Malas Boleh Saja, Asal…
Arifin
Malas, merupakan hal yang alami dan lumrah. Tentu yang harus diperhatikan adalah kadar dan konteksnya. Secara definisi, malas dapat diartikan tidak mau mengerjakan sesuatu; enggan.
Pada beberapa situasi, malas dapat terjadi dan diperkenankan. Misalnya, ketika sedang sakit, ada kecenderungan untuk lebih banyak berbaring, beristirahat; serta enggan melakukan banyak aktivitas fisik.
Rasa ‘malas’ ini juga dimungkinkan sebagai mode istirahat seseorang. Mungkin sebelumnya habis bepergian jauh serta banyak beraktivitas, maka mode ‘malas’ dilakukan sebagai cara tubuh untuk beristirahat.
Sementara itu, sejumlah kemajuan teknologi dapat membantu kerja manusia serta menyingkat waktu. Di sisi lain, bila tidak dikelola dengan baik, dapat menimang-nimang bagian malas, yang bila dibiarkan berkelanjutan dapat menjadi karakter.
Teknologi yang mempermudah, tentu membantu dan laiknya tak usah dimusuhi. Yang harus diperhatikan manusia, adalah dengan tetap bergaya hidup aktif. Segala kemudahan teknologi, seperti memesan makanan secara online; tak berarti menjadi pembenaran bagi seseorang untuk kurang bergerak. Maka memesan makanan secara online oke, bergerak pun oke. Sempatkan diri untuk tetap bergaya hidup aktif, lekatkan dalam kegiatan keseharian, bila perlu pantau dengan perangkat teknologi untuk mendeteksi telah cukup gerakkah Anda.
Sejumlah kemudahan hidup dengan adanya teknologi, selaiknya juga dapat digunakan untuk mengalokasikan waktu untuk melakukan kegiatan yang bermakna. Misalnya mempelajari keterampilan baru, berolahraga, memberikan ketenangan pada diri, dan sebagainya.
Tentunya rumusan apa yang ditanam, itulah yang dituai, berlaku universal. Pun begitu dengan gaya hidup aktif dan bagian kemalasan. Pilah pilihlah kemalasan yang diberlakukan, batasi kemalasan itu, dikarenakan tubuh juga memiliki hak untuk aktif dan sehat. Pun begitu untuk menghargai proses serta segala sesuatunya membutuhkan waktu, hal yang semoga tidak terlepas karena aneka kemudahan yang tersaji di era kini.