Kedatangan Tamu Besar
Arifin
Kabar itu datang bersama angin
Dianyam dari satu mulut ke mulut yang lain
Semula saling berbisik
Lalu, kengerian & ketakutan di wajah
Sesuatu yang akan datang
Raksasa yang lapar nian
Konon katanya, bila tak cukup kenyang ia, maka bulan pun disantapnya
Ah, alangkah gelap jika bulan tiada di waktu malam
Maka penduduk bahu-membahu membuat makanan
Tungku demi tungku
Masing-masing berkorban memberikan apa yang bisa diberi
Ternak, sayuran
Kira-kira macam mana selera raksasa?
Manis/pedas/asam/asin?
Maka aneka rasa disiapkan
Pun sejumlah kudapan
Pada satu purnama, ia akan datang
Begitu benang merah kabar yang menyebar
Ketika purnama bulat sempurna
Tanah seakan bergetar
Raksasa datang
Keringat & gugup di wajah penduduk
Raksasa itu memang sungguh besar
Namun, ternyata wajahnya ramah lagi imut
Taringnya menghias lucu di deretan giginya
“Ah, manusia,” raksasa itu berkata
“Repot-repot menyiapkan ini dan itu,” ternyata raksasa dapat bertutur dengan kata yang dimengerti
“Dari jauh, hidungku telah mencium aroma lezat ini”
“Duduklah sini, mari kita berbincang,” bujuk raksasa ke hamparan warga yang masih menerka
Kabar angin itu ternyata meleset
Ia hanya raksasa yang makan secukupnya, dan lebih butuh teman bicara & tertawa