Monokrom Yang Memeluk
Arifin
Semenjak kepergian itu, monokrom adalah warnanya
Sedih berlapis-lapis
Kata-kata penghiburan dari orang lain
Sejenak bersama orang-orang terdekat, kesedihan terangkat
Namun, saat sendiri itu, kesedihan mendekat & membebat
Ruang-ruang yang dulu hangat, jadi melompong kosong
Dan segala memori yang terangkat, dimana mata mengedarkan tatapan
Ditempuh perjalanannya itu,
Sendiri
Ke kota yang pernah menautkan kisah mereka, saat berdua
Melancong dengan tatapan kosong
Sudut-sudut kota yang pernah begitu akrab, melekat, bertaut, kini menjadi senyum yang kehilangan genggaman
Ia tersenyum sekilas,
Mengingat selintas momen-momen itu,
Lalu, dipandangnya kini,
Tangannya sendiri
Ia berkemas dengan kenangan yang tak pernah lepas
Tak sanggup lagi tinggal di kota yang begitu indah, tapi kini begitu pilu
Berpindah, tak hanya secara geografi
Ia tahu monokrom itu akan memeluknya sewaktu-waktu
Perjalanan kereta, ke kota lainnya
Ia melihat fajar merekah,
Warna yang berbeda dari lingkar matanya yang menghitam