5 Prinsip Berkarya, Adakah Yang Jadi Favoritmu? 

January 4, 2024
Uncategorized

Arifin

Sastrawan Buya Hamka pernah berkata, “Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.” Suatu kalimat bernas yang layak menjadi perenungan tentang hidup, bekerja, dan berkarya.

Kreator digital Meiliana Betand (@mbetand) mengungkap 5 prinsip berkarya. Prinsip tersebut poinnya beberapa telah dikenal luas, namun menarik untuk kembali diingat serta diaplikasikan. Di samping itu sejumlah prinsip berkarya yang diungkap juga dapat memberi makna lebih perihal hidup, bekerja, dan berkarya.

Prinsipnya yakni ‘Selesai lebih baik daripada sempurna’. Berhenti dan mengungkap kata selesai merupakan salah satu tantangan dalam berkarya. Ada semacam obsesi untuk memperbaiki, memperbaiki, dan memperbaiki lagi. Di samping itu ada suara dalam diri yang menyatakan sepertinya belum sempurna nih. Namun, perlu kiranya diri untuk berkata cukup dan selesai. Salah satu batas, patokan kata selesai itu adalah tenggat. Mari berdisiplin dengan hal tersebut.

Prinsip berkarya berikutnya yakni ‘Frustasi bukanlah gangguan dari proses, melainkan bagian dari proses’. Percayalah apa pun pekerjaan, karya, akan selalu ada saat frustasi. Sekalipun pekerjaan, karya itu merupakan passion dari diri. Menghadapi frustasi merupakan bagian dari proses berkarya. Setelah dijalani ataupun setelah rampung karyanya, cobalah menengok tentang rasa frustasi itu. Rasa frustasi itu terkadang cara yang dibutuhkan untuk menghasilkan karya lebih baik lagi.

Prinsip berkarya lainnya yakni ‘Jika kita ingin jadi penulis, maka sebelumnya jadilah pembaca’. Menurut hemat saya, dengan menjadi pembaca yang baik, maka memiliki amunisi ide, ragam diksi, serta aneka pendekatan untuk berkarya. Membaca ibaratnya investasi referensi.

Prinsip berkarya berikutnya yaitu ‘Lebih baik sedikit lebih berbeda, daripada sedikit lebih baik’. Mari mencoba melakukan eksperimentasi terhadap karya yang dihasilkan.

Lalu terdapat prinsip ‘Gak ada hal baru di bawah matahari – semua ‘ide baru’ adalah gabungan dari beberapa ide yang telah ada sebelumnya’. Maka dikenal siklus, seperti mode. Apa yang menjadi tren di masa lalu dapat kembali terjadi di masa sekarang atau mendatang, dengan sejumlah adaptasi sana-sini.

Pun begitu dengan ide-ide karya yang dihasilkan dari diri. Dalam hal ini, memperbanyak referensi, serta mencoba ragam ekseperimentasi merupakan upaya untuk menghasilkan “senyawa karya” dari “unsur-unsur” yang telah ada.

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd