Mengapa Menulis?
Arifin
Ada berbagai cara untuk menuturkan pemikiran. Bisa dengan lisan, dapat dengan tulisan. Ya, menulis merupakan salah satu cara untuk menuturkan apa-apa yang dipikirkan.
Lisan serta tulisan, bahkan sesungguhnya dapat saling bertaut, kuat-menguatkan. Pemikir HOS Tjokroaminoto pernah berkata, “Jika ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator”.

Mengasah lisan serta tulisan, menggunakannya, maka akan memperkuat keduanya. Baik lisan serta tulisan, merupakan keterampilan memilih diksi, menempatkan rima, serta menyampaikan pesan dengan jelas.
Terbiasa bertutur dengan lisan, namun belum terbiasa menulis? Hal tersebut dapat ditempuh, diupayakan, misalnya dengan mengucapkan apa yang di pikiran, lalu direkam. Dari rekaman tersebut, cobalah alih wahana, gunakan medium menulis.
Biar bagaimanapun lisan serta tulisan memang memiliki perbedaan tertentu. Pada tulisan misalnya, seseorang dapat memiliki waktu lebih untuk menyusun apa yang dipikirkannya. Berbagai proses terjadi, di antaranya melakukan penyuntingan dengan memeriksa typo, serta melihat keselarasan antarparagraf. Proses menulis juga dapat “dibongkar”, seperti mengubah teras (lead) agar lebih menarik sejak awal semula.
Menulis menurut wikipediawan Ivan Lanin memaksa kita untuk mengatur pemikiran, menganalisis informasi, dan menemukan cara terbaik untuk menyampaikan gagasan. Proses ini membantu mengklarifikasi pemikiran yang mungkin sebelumnya masih samar-samar.
Menulis juga membuat pemikiran makin dalam dan terstruktur. Ketika menulis, kita dipaksa untuk berpikir lebih kritis dan analitis, yang pada gilirannya memperdalam pemahaman tentang topik yang sedang ditulis.