Biarkan Anak Belajar Secara Mandiri Dan Menyenangkan
Arifin
Belajar bagi anak dapat diupayakan agar belangsung secara mandiri dan menyenangkan. Dengan mengupayakan lingkungan pembelajaran yang memantik, menarik, maka anak dapat mengeksplorasi pengetahuan secara mandiri. Anak dapat berperan aktif dalam pembelajaran mereka.

Ambil contoh dalam pembelajaran literasi anak, ayah-bunda dapat menghadirkan buku-buku yang mudah diakses, menarik, sesuai tahap perkembangan, serta ditaruh dalam jangkauan tangan anak. Orang tua dapat sebagai pemantik awalnya, seperti membaca secara nyaring. Lalu untuk kemudian, anak dapat secara mandiri menumbuhkan kecintaannya terhadap buku sejak dini.
Anak pun bisa jadi menginginkan ayah-bundanya untuk membaca lagi, lagi, dan lagi buku yang sama. Di samping itu, anak akan mencoba membuka-buka halamannya, mengamati gambarnya, mengingat kembali cerita di buku, serta berusaha menceritakan kembali atau mendiskusikan hal yang dirasanya menarik.
Dalam pembelajaran, orang tua juga melakukan observasi. Dengan observasi tersebut, orang tua akan dapat menakar kapan saatnya menawarkan bantuan ataupun membiarkan dulu anak untuk mencobanya sendiri.

Senantiasa menawarkan bantuan pada anak dapat menumpulkan rasa percaya diri serta kemandiriannya. Padahal baiknya anak memiliki keberanian untuk mencoba. Dengan mencoba tersebut, anak akan belajar. Anak yang belajar, observasi yang dilakukan orang tua dapat membuat ayah-bunda bersabar, serta fokus terhadap progres anak. Simaklah bagaimana anak berprogres semakin baik.
Hal tersebut dapat dilakukan misalnya terkait motorik anak serta olah raga yang dilakukan anak. Penulis sendiri secara personal praktis mengamati terlebih dahulu ketika anak bermain. Lepas dari jam resmi sekolah, anak kami biasanya bermain terlebih dahulu di play ground. Terdapat perosotan, ayunan, rumah pohon, permainan bola, bola keranjang, dan sebagainya.
Progres pun terlihat, seperti rumah pohon yang semula belum berani dinaikinya, kini dinaiki melalui tangga, serta dapat berdiri tegak di rumah pohon. Pada permulaan, anak kami masih butuh pendampingan seperti dipegangi serta berada di jarak yang dekat. Seiring waktu, anak mencoba secara mandiri, sendiri, dan akhirnya dapat menikmati keseruan bermain di rumah pohon.