Diri Yang Dulu Adakah Sama Dengan Diri Yang Sekarang?
Arifin
Adakah manusia merupakan makhluk yang akan tetap, stagnan? Rupanya bisa jadi ada yang tetap, serta ada yang berubah. Bersama perjalanan waktu, pengalaman, trauma, harapan, seseorang dapat mengalami perubahan cara pandang.
Adakah Anda memiliki berbagai tulisan ataupun catatan yang rutin bersama waktu yang dilalui? Bisa jadi Anda akan mengernyitkan dahi melihat tulisan atau catatan di masa lalu terhadap berbagai hal. Namun, percayalah itu merupakan catatan zaman, serta pada setiap masa Anda akan berusaha sebaik-baiknya bukan?

Banyak makan “asam garam”, mengalami langsung, maka harapannya semoga kebijaksanaan pun hadir. Di samping itu interaksi, bersosial, juga dapat membawa seseorang pada empati, serta mencoba membayangkan bila berada di sisi orang lain.
Bersama waktu, serta umur yang tambah dewasa, berbagai angan-angan, perkiraan, semakin menemukan faktanya. Oh ternyata begini. Oh ternyata begitu.
Pemahaman terhadap diri serta orang lain pun selaiknya makin terkokohkan. Maka presisilah apa yang diungkap penulis novel To Kill a Mockingbird, Harper Lee, “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya…hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”
Melihat karya ataupun sesuatu pun bisa jadi berbeda pada berbagai termin waktu. Ada faktor pengetahuan, pengalaman, yang turut serta memberikan cara pandang itu. Maka membaca buku, menonton film, bisa jadi perspektif diri akan berbeda terhadap buku dan film yang sama. Ambil misal, ketika saya menonton anime Doraemon, pada waktu kecil lebih terfokus pada Nobita beserta alat-alat dari Doraemon untuk mengatasi masalah. Pada saat ini, ketika menonton kartun yang sama, pikiran pun bertanya tentang parenting, stimulasi bagi Nobita, intervensi yang begitu kerap dari Doraemon, serta merenungkan kemandirian Nobita, dan sebagainya.
Di sisi lain, bila ingin mengetahui pandangan, pendapat anak, maka cobalah amati, berkomunikasi dengan mereka. Asumsi dari pengalaman ketika diri menjadi anak, bisa jadi terdapat perbedaan dengan apa yang dialami serta dirasakan anak era sekarang.