Apa Yang Dibaca Memengaruhi Apa Yang Ditulis
Arifin
Rumus dasar dari teko dapat berlaku di macam-macam keadaan. Apa yang dimasukkan ke dalam teko, maka begitu pulalah yang dikeluarkan. Ketika teko diisi teh, maka akan mengeluarkan teh. Ketika teko diisi kopi, maka akan mengeluarkan kopi.
Rumus semacam itu juga berlaku dalam ranah baca-tulis. Apa yang ditulis, dipengaruhi dari apa yang dibaca. Maka perhatikanlah apa-apa yang dibaca.

Dari tulisan-tulisan yang baik, berbobot, dapat dipelajari rupa-rupa hal. Seperti isi, diksi, cara menyajikan ide, tata bahasa, dan sebagainya.
Dalam studi misalnya, referensi, daftar pustaka, dapat menjadi salah satu parameter kualitas penulisan. Ketika sedang membahas topik tertentu, maka seberapa banyak literatur terkait yang turut serta dibaca oleh penulisnya.
Ketika mempelajari hal baru pun, banyak-banyak membaca topik terkait dapat menjadi cara. Paparkan diri dengan banyak-banyak konten terkait.
Bagaimana bisa seseorang menulis? Selain dari apa yang dibaca, percakapan pun dapat menjadi hulu ide, informasi. Maka dalam keseharian, gunakan pula pendengaran untuk menyerap berbagai macam ilmu, ide, informasi. Hal itu dapat dilakukan melalui percakapan langsung, baik itu dengan narasumber dengan kepakarannya, di samping itu gunakan pula sejumlah podcast sebagai kesempatan untuk menambang inspirasi.
Perihal menulis sendiri, dapat digunakan perpektif, kekhasan. Apa yang dikonsumsi, seperti dari bacaan, perbincangan, dapat diramu, dipilah-dipilih bagian mana yang diambil. Seseorang dapat meraciknya dengan kemungkinan yang begitu rupa-rupa. Bak membuat puzzle, susunannya dapat diimbuhi dengan budaya populer, seperti apa yang sedang menjadi tren, memasukkan diksi yang mudah diingat, dan sebagainya.