Menulis Dari Apa Yang Dialami
Arifin
Adakah Anda bingung mulai menulis dari mana? Salah satu tips yang kerap dilantunkan untuk memulai, yakni menulislah dari yang dekat, dari yang diketahui, dari yang Anda alami. Dengan start semacam itu, maka ada begitu banyak bahan serta beragam tema yang dapat dituliskan. Dalam sehari saja, jika ditelusuri ada begitu merentang tema yang dapat dikulik.
Menulis dari apa yang dialami – dengan begitu dapat melibatkan panca indra. Bahkan dari sekadar kata sederhana, ide dasar, ketika telah mengalami, serta melibatkan panca indra, maka dapat berkembang ke mana-mana tulisan tersebut. Itulah kiranya dalam jurnalistik, liputan langsung ke lapangan, bertemu narasumber, penting adanya. Dikarenakan tak hanya sekadar informasi yang didapatkan, melainkan sisi lainnya, termasuk hal-hal tersirat yang bisa menjadi “bumbu” dalam tulisan.

Menulis dari apa yang dialami – bila bepergian, berwisata, melancong, cobalah panjangkan ingatan dengan menuliskannya. Suatu waktu bila hal semacam itu dilakukan, Anda akan terkagetkan betapa telah begitu banyak serta beragam perjalanan yang telah dilakukan.
Menulis dari apa yang dialami – bahkan ketika di rumah saja, Anda pun bisa-bisa saja kok menulis rupa-rupa. Bisa berbekal ingatan, aktivitas yang dilakukan di rumah, buku yang sedang dibaca, film yang ditonton, dan sebagainya. Kehidupan keseharian yang seperti biasa-biasa saja, namun bila rutin dituliskan, bisa membentuk pola, serta dapat berguna dalam kehidupan. Dikarenakan ketika menulis, ada analisa, kegiatan berpikir, serta Anda teramat mungkin mengevaluasi dari kehidupan harian, sisi mana yang baiknya diperbaiki.
Menulis dari apa yang dialami – seperti misalnya, sedang membaca buku tertentu, maka buatlah tulisan dari quote tertentu atau ide yang paling menarik bagi Anda. Tak perlu harus menamatkan bukunya terlebih dahulu, Anda dapat menuliskan hal yang memantik pikiran ketika membaca pustaka tertentu.
Menulis dari apa yang dialami – menonton film pun dapat menjadi wahana. Adakah bagian yang sekiranya ngena, klop dengan yang Anda pikirkan, alami. Anda pun dapat memberikan perspektif terhadap film yang ditonton.
Menulis dari apa yang dialami – selain dapat menjadi catatan diri, juga dapat sebagai wahana untuk lebih mengenal diri sendiri. Apa-apa yang dialami, dilihat, didengar, dirasakan, dipikirkan, menemui formatnya dalam tulisan.
Menulis dari apa yang dialami, juga melatih perspektif. Bagaimana mengungkapkan, mengutarakannya dalam tulisan. Hal yang sesungguhnya dapat membentuk personal branding diri dari tulisan-tulisan yang dibuat.