Sejumlah Manfaat Karbohidrat Untuk Tubuh 

October 30, 2024
Kesihatan

Arifin

Karbohidrat merupakan zat gizi makro yang penting untuk kesehatan secara keseluruhan, dan perhatikan pula berapa banyak karbohidrat yang akan dikonsumsi. Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh, yang memberi tenaga bagi segala hal mulai dari otak hingga otot, saat tubuh memecahnya menjadi glukosa (gula), itu bisa digunakan sel-sel tubuh sebagai energi segera atau disimpan untuk digunakan nanti.

Ini mencakup segala hal mulai dari tidur yang lebih baik, kesehatan mental, usus, peningkatan kinerja olahraga, hingga hormon yang seimbang. Asupan karbohidrat amat penting untuk kesehatan tiroid, seks, leptin, insulin, kadar hormon stres, serta kualitas tidur dan produksi serotonin.

Disarankan agar mengonsumsi sekitar 40 hingga 50 persen kalori harian dari karbohidrat, atau sekitar 200 hingga 250 gram berdasarkan diet 2000 kalori. Sebagai referensi, satu cangkir beras merah mengandung 45 gram, satu cangkir gandum mengandung 27 gram, dan satu cangkir quinoa mengandung 39 gram.

Meski begitu, banyak orang mungkin perlu mengonsumsi lebih banyak atau lebih sedikit dari kisaran rata-rata ini karena berbagai alasan, termasuk mengelola kondisi seperti PCOS atau diabetes tipe 2, atau bila sedang pulih dari gangguan makan.

Wanita yang sedang menstruasi membutuhkan asupan karbohidrat yang cukup untuk mendukung produksi dan keseimbangan hormon seks yang sehat.

Seseorang akan membutuhkan lebih banyak kalori dan karbohidrat bila hamil untuk mendukung peningkatan pengeluaran energi dan kebutuhan bayi yang sedang tumbuh.

Sedangkan di sisi lain, diet rendah karbohidrat mungkin tidak cocok untuk sebagian orang. Diet rendah karbohidrat bisa berbahaya dalam jangka panjang bagi wanita dan atlet, yang perlu mengonsumsi cukup karbohidrat untuk mendukung proses fisiologis mereka.

Pada atlet wanita, diet rendah karbohidrat bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang menyebabkan menstruasi tidak teratur atau bahkan amenore — saat menstruasi berhenti total. Hal ini kemudian bisa menyebabkan hilangnya kepadatan tulang, yang meningkatkan risiko patah tulang.

Sumber: Popsugar, Antara

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd