Bila Anak Berkonflik
Arifin
Orang tua perlu memantau situasi serta kondisi emosional anak ketika menghadapi situasi anak berkonflik dengan lingkungan sekitarnya. Orang tua tetap terlibat secara emosional misal dengan memvalidasi perasaan anak, memberi nasihat bila diperlukan, dan siap membantu jika situasi tidak terkendali.
Membiarkan anak menyelesaikan masalahnya berarti memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar mengambil keputusan serta memecahkan masalahnya dengan tetap mendapatkan dukungan orang tua di belakang layar.

Bila konflik bersifat ringan, orang tua cukup memantau situasi dan biarkan anak menyelesaikan masalahnya sendiri terlebih dahulu karena konflik ringan merupakan bagian dari interaksi sehari-hari dan melatih keterampilan sosial dan pemecahan masalahnya.
Hal tersebut berbeda dengan orang tua yang memang sengaja membiarkan dan tidak memberi perhatian ketika anaknya memiliki masalah, ini akan membuat mereka merasa diabaikan. Orang tua yang tidak peduli berarti benar-benar tidak menunjukkan perhatian atau kepedulian terhadap konflik yang dialami anak, bahkan tidak menawarkan dukungan atau pengawasan. Hal tersebut dapat membuat anak merasa diabaikan dan kurang mendapat dukungan emosional.
Orang tua bisa ikut andil dalam konflik anak bila dirasa sudah melibatkan fisik atau verbal yang mengancam keselamatan atau anak menunjukkan tanda-tanda kesulitan emosional karena tertekan atau cemas. Selain itu orang tua dapat membantu bila konflik terus berulang dan anak sudah tidak mampu menyelesaikannya, serta bila telah melibatkan bullying atau perundungan yang memperlihatkan perbedaan kekuatan.
Orang tua perlu mengajarkan anak untuk membuat batasan diri (boundaries) serta berani berkata “tidak” bila merasa tidak nyaman atau diperlakukan tidak adil, dan mencari bantuan dari orang dewasa yang dipercayai.
Orang tua juga bisa membekali anak dengan keterampilan komunikasi asertif agar mereka mampu menyatakan perasaan dan pendapatnya dengan tegas tanpa harus bersikap agresif.
Sumber: Antara