Mengapa Revisi Berkali-Kali Dalam Menulis Itu Perlu? 

November 25, 2024
fakta menarik

Arifin

Tulisan yang menjadi favorit Anda, bisa jadi telah melalui proses revisi berkali-kali. Simaklah dapur karya dari pembuatan novel ataupun skenario film. Teramat mungkin telah melalui revisi, bongkar pasang beberapa kali.

Bila ditelusuri sebabnya, karena ada mata lainnya, pendapat lainnya. Pada novel, terdapat editor. Pada skenario film, bila ditulis keroyokan, maka rekan lainnya yang memberikan masukan.

Tingkat kerumitan dari karya-karya tersebut memang membuat diperlukan mata lainnya untuk melihat. Bayangkan pada sebuah novel, di mana terdapat ragam karakter. Dari sisi karakter saja, dapat menjadi permasalahan. Adakah konsisten karakter digambarkan, tepatkah diksi pada dialog yang diucapkan karakter, telah tepatkah penggambaran karakter sesuai dengan seharusnya, dan sebagainya.

Mari mengambil contoh, pada novel teranyar karya Raditya Dika yakni Timun Jelita. Raditya meminta agar yang menjadi editor di buku tersebut perempuan muda. Hal tersebut kontekstual mengingat salah satu karakter utama dari novelnya adalah Jelita yang merupakan saudara Timun. Jelita merupakan seorang mahasiswi yang susah percaya dengan orang baru, mereka membuat duo musik.

Pihak penerbit memilih Raisa sebagai editor. Kiranya dengan editor perempuan yang berada di rentang usia muda maka akan lebih terhubung dengan karakter Jelita yang dimaksud. Seperti dari cara berpikir, diksi yang digunakan, dan sebagainya.

Untuk menyempurnakan suatu karakter, masukan dari orang yang berada di jenjang usia karakter dapat jadi pertimbangan kala menulis. Hal senada dilakukan Dewi Lestari ketika menulis novel Rapijali yang para karakternya adalah para murid sekolah menengah atas (SMA). Maka Dewi Lestari meminta bantuan dan masukan dari anaknya.

Sedekat mungkin dengan karakter tertentu juga dapat dilakukan dengan memiliki personalisasi dari tokoh. Di samping itu, wawancara mengenai pendalaman karakter juga dapat dilakukan. Dari situ dapat diketahui buah pikir, diksi, dan sebagainya.

Meminta feedback dari beberapa pembaca awal juga dapat menjadi cara. Hal ini misalnya dilakukan oleh penulis cerita anak Noor H Dee yang meminta masukan dari sejumlah anak mengenai karya yang akan dirilisnya. Feedback ini bermanfaat untuk mempertajam cerita, memperbaiki hal yang dirasa kurang, serta menguji cerita langsung kepada tujuannya yakni anak-anak.

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd