Mengapa Menggunakan Tokoh Hewan Pada Cerita?
Arifin
Anak-anak dapat begitu antusias ketika diajak ke kebun binatang. Hewan memang menjadi perhatian yang menarik hati dan pikiran anak-anak.
Maka dikenallah fabel. Fabel merupakan cerita yang menggambarkan watak dan budi manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang (berisi pendidikan moral dan budi pekerti). Penggunaan fabel merupakan salah satu strategi penyampaian pesan.
Pada umumnya anak-anak menyukai dunia hewan, maka tokoh binatang dapat menjadi magnet yang menarik perhatian anak.

Menggunakan tokoh hewan juga dapat dimaknai sebagai bagian dari mesra alam. Binatang merupakan bagian dari alam, ekosistem. Mengajak anak untuk lebih peduli, mesra alam, serta menyayangi binatang.
Memperkenalkan fabel kepada anak, juga dapat mendorong anak untuk beraktivitas di luar ruangan. Ajaklah buah hati keluar ruangan serta mengamati binatang-binatang yang ada. Bisa ke taman, kebun binatang, bahkan jalan-jalan di sekitar rumah pun bila kreatif bisa menjadi pengamatan terhadap hewan.
Beraktivitas di luar ruangan, ajak anak untuk melakukan pengamatan langsung terhadap hewan yang ada. Ajak diskusi, pantik dengan pertanyaan, lakukan tanya jawab selama pengamatan terhadap hewan di luar ruangan tersebut.
Ketika melakukan pengamatan dapat dengan mengajukan pertanyaan kepada anak tentang apa yang dilihat, didengar, serta bau apa yang dirasakannya? Dari pertanyaan mendasar tersebut, anak dapat menelusuri lebih jauh menjadi pengamatan.
Pengamatan yang dilakukan anak dapat berbuah pada pembiasaan berpikir kritis, membuat ilustrasi atau gambar terkait, menulis hasil pengamatan, memotret, dan sebagainya.
Fabel, karakter hewan, sesungguhnya juga senada dengan petuah “alam terkembang menjadi guru”. Di samping itu, pada kitab suci Al-Qur’an pembelajaran dilakukan pula melalui sejumlah perumpamaan hewan. Seperti gagak, lebah, jaring laba-laba, dan sebagainya.