Riset Kokoh Pada Cerita Fiksi
Arifin
Fiksi secara definisi merupakan cerita rekaan, khayalan. Namun, tunggu dulu, dari cerita-cerita fiksi favoritmu dapat sebegitu hidupnya, bisa jadi karena didasarkan pada riset yang kokoh. Fakta-fakta yang ada bisa jadi diramu dengan rapi, lalu disusun menjadi cerita fiksi yang menarik.
Maka bila Anda tertarik untuk membuat cerita fiksi, selain menggunakan daya khayal, imajinasi, pertimbangkan pula untuk bersiap dengan riset yang baik. Mengapa? Salah satu alasannya yakni keyakinan untuk mengasumsikan penikmat karya kita adalah orang yang pintar. Maka mereka akan mempertanyakan dunia fiksi yang kita buat, logika cerita yang kita susun.

Mari mengambil teladan, misalnya pada novel Jurassic Park karya Michael Crichton. Michael melakukan riset soal DNA dari satu universitas ke universitas lainnya. Untuk riset soal dinosaurus, Michael berguru ke ahli paleontologi ternama di Amerika Jack Horner.
Teladan lainnya pada novel Aroma Karsa, untuk menghadirkan novel setebal 710 halaman tersebut, Dewi Lestari melakukan riset dengan membaca hingga 50 buku. Sedangkan di novel Supernova, Dewi Lestari selama 9 bulan membaca hingga 35 buku.
Riset pada cerita fiksi pun dapat dilakukan dengan turun lapangan, mengecek langsung ke tempat-tempat yang menjadi latar cerita. Datang langsung memungkinkan untuk lebih presisi, akurat, dalam menuturkan cerita. Dikarenakan melibatkan panca indra ketika berada di tempat yang menjadi latar cerita.
Di samping itu, riset pada cerita fiksi pun bisa bak kerja jurnalistik maupun penelitian. Ada pencarian data, wawancara dengan narasumber ahli, melakukan verifikasi terhadap data, melakukan konfirmasi dari temuan-temuan pada riset.
Lalu, adakah bacaan-bacaan atau imajinasi yang mengawali suatu ide cerita fiksi? Tentu tergantung, keduanya bisa datang duluan. Seperti misalnya, bila Anda menggemari ilmu alam, tentang risiko punahnya kupu-kupu. Merujuk data dari Project Multatuli, bila kupu-kupu hilang, umur manusia di bumi tinggal empat tahun. Kita akan gagal panen, burung-burung pemakan kupu-kupu punah, diikuti kepunahan predator lain, terus sampai top predator, seluruh piramidanya akan ikut hancur. Termasuk kita, manusia. Dari bacaan semacam kepunahan kupu-kupu tersebut, sesungguhnya dapat memantik dengan mengemasnya dalam cerita fiksi berbasis riset. Di samping itu terdapat visi lingkungan dan keberlanjutan yang turut menyertai cerita fiksi.