Apa Perlunya Melihat Tulisan-Tulisan Dari Masa Lalu? 

January 20, 2025
Buku

Arifin

Adakah Anda telah menulis sejak lama? Sama seperti keterampilan-keterampilan lain, menulis dapat semakin terasah seiring waktu dan terus-menerus dilatih.

Lantas, apa perlunya melihat tulisan-tulisan sendiri dari masa lalu? Sebelum ke sana, perlu kiranya untuk memerhatikan sejauhmana pengarsipan terhadap tulisan yang telah Anda lakukan. Pengarsipan tulisan yang baik merupakan bekal untuk menilik, melihat tulisan-tulisan dari masa lalu.

Bila hari ini masih cenderung acak-acakan dalam mengarsipkan tulisan, maka baik adanya bila melakukan perbaikan tata kelola penyimpanan. Dengan mengarsipkan tulisan secara baik, maka dapat menjadi cara untuk menilik, menelaah tulisan yang sudah-sudah.

Melihat tulisan dari masa lalu, diperlukan, di antaranya untuk menyadari bahwa ada sejumlah progres yang telah dilakukan. Itulah kiranya buah dari jam terbang menulis.

Melihat tulisan dari masa lalu bisa menjadi pengingat, telah begitu lama ya menulis. Bagaimana keterampilan menulis telah melalui proses, jam-jam panjang.

Tulisan dari masa lalu juga memaparkan keresahan serta solusi yang Anda berikan saat itu. Mungkin di kini Anda akan terhenyak dengan apa yang dipikirkan di masa lalu tersebut. Namun, percayalah di waktu itu diri telah berusaha sebaik mungkin, serta dengan pengetahuan dan pengalaman yang ada di waktu itu.

Melihat tulisan dari masa lalu, tak sekadar pada karya-karya yang dipublikasikan ke umum, namun juga bisa menengok catatan harian, journaling yang Anda lakukan. Sadar ataupun tidak, sesungguhnya melakukan journaling membuat terbiasa bercerita via tulisan.

Melihat tulisan dari masa lalu juga dapat menjadi refleksi, telahkah berkembang penulisan dibandingkan karya terdahulu? Telahkah melakukan sejumlah eksperimentasi? Mencoba berbagai ranah. Telahkah menerapkan ilmu-ilmu penulisan yang dipelajari?

Melihat tulisan dari masa lalu juga dapat menjadi bahan cerita. Ahmad Fuadi dalam menyusun novel Negeri 5 Menara menyandarkan pada sejumlah catatannya ketika menjadi santri di pondok pesantren Gontor.

Contoh lainnya yakni Dewi Lestari dengan karyanya Rapijali, yang perlu 27 tahun hingga akhirnya terselesaikan. Menurut Dee, novel yang semula bernama Planet Ping tersebut simpel tapi tidak mudah digarap. Nyatanya kemandekan berbilang tahun tersebut baru dapat dituntaskan berkat pengalaman. Pengalaman menulis itu pula yang membuat Dee terampil menyusun konflik dan cerita pada kisah Ping dan kawan-kawannya di Rapijali.

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd