Begitu “Nyata” Pada Cerita Fiksi 

January 22, 2025
Buku

Arifin

Fiksi secara definisi merupakan cerita rekaan, khayalan. Namun, bagi penikmat fiksi tentu merasa apa yang diceritakan dalam fiksi seolah begitu nyata. Itulah kehebatan fiksi di antaranya “mengaburkan kenyataan dengan rekaan”.

Fiksi ditempuh sebagai cara bertutur, di antaranya karena lisensi kreatif tersebut yang membuat “mengaburkan kenyataan dengan rekaan”. Hal semacam ini di antaranya dapat terkait dengan sejarah kelam, perang, tragedi, dan lain-lain. Adakah cerita fiksi favorit Anda yang berbasiskan hal-hal tersebut?

Terdapat hal-hal yang sesungguhnya fakta, di samping itu terdapat hal-hal yang merupakan rekaan. Lalu yang fakta dan rekaan itu dicampur baurkan dalam cerita fiksi. Cerita fiksi dengan demikian dapat menjadi cara yang cerdik untuk menyampaikan fakta pula.

Lantas dalam pembuatan cerita fiksi pun, mekanisme pembuatannya pun dapat seperti mengulik, menelusuri fakta. Seperti Leila Chudori pada novel Laut Bercerita yang melakukan studi literatur, serta melakukan wawancara ke sejumlah narasumber. Ya, novel Laut Bercerita memang terkait sejarah kelam, tragedi kemanusiaan.

Atau simak pula penulis Dewi Lestari yang pada novel Aroma Karsa melakukan riset dengan membaca hingga 50 buku. Proses riset dari cerita fiksi Aroma Karsa lebih lanjut dapat ditelusuri pada Di Balik Tirai Aroma Karsa. Nampaklah bagaimana studi langsung ke lapangan (TPA Bantar Gebang), Dee yang mengikuti kursus meracik parfum, serta bagaimana sejumlah bukti visual dengan sekurangnya 200 foto yang disertakan dalam buku yang berkisah tentang “dapur” pembuatan novel Aroma Karsa.

Apa yang nyata pada cerita fiksi juga terpaut dengan suspension of disbelief, batas logika bisa ‘dibengkokkan’ dan diterima. Sebagai pencerita, dalam genre apa pun, selalu ada logika dasar yang harus dipenuhi. Maka peran penting riset untuk mengulik fakta merupakan upaya memenuhi logika dasar tersebut.

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd