Mengonsumsi Banyak Karya Jadi Modal Berkarya
Arifin
Menjadi kreator karya membutuhkan asupan. Banyak-banyak asupan karya. Banyak-banyak referensi. Itulah kiranya tak mengherankan bila ditelusuri para kreator telah menyukai bidang yang digelutinya sejak lama, sejak dini.
Penulis, telah banyak-banyak membaca. Sutradara film, telah banyak-banyak menonton film. Pencipta lagu, telah banyak-banyak mendengarkan musik. Pelukis, telah banyak-banyak mengamati lukisan demi lukisan.

Contoh senada juga dapat ditemui pada masakan serta restoran. Diperlukan wawasan lidah yang luas untuk mengembangkan masakan serta bisnis restoran. Ambil contoh pada restoran Payakumbuah milik Arief Muhammad. Untuk mencari rasa yang pas pada menu-menu restorannya, Arief mencicipi sekian banyak kuliner Sumatra Barat. Dengan referensi konsumsi yang merentang beragam, dapat menjadi patokan akan membuat menu yang seperti apa.
Perihal apa yang dikonsumsi menentukan output, penulis Okki Sutanto dengan cergas menerangkannya: Pelatih sepakbola dengan segudang trofi & legendaris, mengetahui segala jenis formasi, taktik, dan nonton begitu banyak rekaman pertandingan. Pemain catur papan atas, rajin ngulik ribuan permainan catur lintas zaman, dan belajar soal beragam opening dari Sicilian defense sampai queens’s gambit.
Volume yang banyak serta beragamnya hal yang dikonsumsi juga dapat menjadi modal untuk berkarya. Maka jangan membatasi diri dalam mengonsumsi, banyak-banyaklah berkelana pada karya-karya yang ada. Hal tersebut bisa menjadi acuan, referensi.
Dari aneka yang dikonsumsi tersebut, dapat mengembangkan “radar pembeda”. Mana nih yang kira-kira cocok dengan diri. Mana yang kira-kira bagus dan mana yang tidak bagus. Di samping itu dapat mempelajari teknik menyampaikan ide.
Dikenal istilah amati, tiru, modifikasi (ATM). Bagaimana kiranya mau menerapkan hal tersebut bila sampel pengamatan hanya sedikit? Maka banyak-banyaklah dalam sampel pengamatan, perluaslah sampel pengamatan.
Di samping itu, aneka serta luasnya hal yang dikonsumsi memungkinkan untuk menghubungkan titik-titik dari berbagai disiplin ilmu.