Yang Bisa Kita Pelajari Dari Negara-Negara Bahagia Di Dunia
Arifin
Finlandia, untuk kedelapan kalinya secara berturut-turut, dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia. Sementara itu, Malaysia berada di peringkat ke-64, sedangkan Indonesia di peringkat ke-83 pada tahun 2025 ini.
Peringkat-peringkat negara tersebut berdasarkan World Happiness Report. Laporan ini, hasil kolaborasi Wellbeing Research Centre Universitas Oxford, Gallup, dan UN Sustainable Development Solutions Network, menggunakan data dari Gallup World Poll yang mencakup berbagai faktor penentu kebahagiaan.
Sejumlah faktor yang dipertimbangkan dalam laporan tersebut meliputi PDB per kapita, harapan hidup sehat, dukungan sosial, kebebasan pribadi, kemurahan hati, dan persepsi korupsi.

Di samping itu, demokratis, antikorupsi, dan dekat dengan alam adalah indikator utama. Lalu, apa yang dapat dilakukan oleh diri bila merujuk sejumlah indikator serta faktor yang turut menyusun peringkat kebahagiaan tersebut. Paling tidak, diri dapat berkontribusi untuk menghadirkan kebahagiaan sesuai indikator serta faktor yang ada tersebut.
Sebut saja dekat dengan alam. Maka kita bisa menghadirkan hal tersebut dalam keseharian, seperti menanam pohon, memelihara tanaman, vakansi ke taman, memiliki perilaku hidup yang mendukung mesra alam, dan sebagainya.
Kita pun bisa menghadirkan dukungan sosial, seperti terlibat dalam kegiatan sosial, berbagi makanan dengan orang lain, peduli terhadap warga emas/lanjut usia, dan sebagainya. Untuk warga emas, di Finlandia misalnya, dengan melibatkan mereka menanam bunga di halaman sekolah, sehingga mereka merasa senang dan berguna, serta tidak merasa sendirian.
Kemurahan hati, berbagi juga menjadi faktor yang turut menyokong kebahagiaan
Sementara itu, pada indikator demokratis, di keluarga, dapat dengan memberikan anak kebebasan berbicara, mengemukakan pendapat, serta buah pikirnya. Di lingkup keluarga bisa mengedepankan diskusi serta musyawarah mufakat sebagai metode pengambilan keputusan.