Keterbatasan Dapat Jadi Karakteristik Tersendiri
Arifin
Berkaryalah dengan apa yang telah melekat di diri serta dimiliki. Dibandingkan menunggu, menunda, bisa-bisa bara kreativitas tidak tersalurkan. Berfokuslah pada yang dimiliki, pada kebisaan yang dipunyai.
Keterbatasan tertentu pada beberapa hal dapat menjadi penghalang. Baru akan berkarya bila telah memiliki A,B,C. Padahal kiranya keterbatasan yang ada perlu disiasati serta dicarikan caranya. Bahkan keterbatasan dapat menjadi keunikan, karakteristik tersendiri. Sebut saja, musikus yang mengandalkan sisi akustik ataupun praktis menggunakan olah vokalnya saja. Sejumlah acara bahkan “menyambut keterbatasan” itu, seperti bernyanyi di dalam mobil, bermain musik dengan akustik saja, dan sebagainya.

Keterbatasan tertentu juga dapat membentuk gaya kreatif. Sebut saja pada media sosial Twitter yang dulu dibatasi penggunaan karakternya. Dengan pembatasan yang ada tersebut, maka pintar-pintar menyiasati, serta bisa menjadi keunikan. Seperti membaginya dalam beberapa cuitan, memilah dan memilih betul diksi yang digunakan dalam cuitan, dan sebagainya.
Keterbatasan bukanlah masalah, juga ditunjukkan pada film Flow yang meraih Oscar untuk Film Animasi Terbaik. Film karya sutradara Gints Zilbalodis dibuat dengan Blender, program gratis dan sumber terbuka. Anggaran dari film asal Latvia ini tentu lebih sederhana dibandingkan sejumlah studio animasi yang telah mapan.
Seperti dilansir India Today, Zilbalodis, mengungkapkan bahwa ia mulai mengembangkan film tersebut pada tahun 2019. Saat itu, ia menghadapi tantangan dengan kecepatan render karena tidak seperti studio Hollywood, ia tidak memiliki akses ke server farm yang bisa menganimasikan dan membuat frame untuk filmnya dengan cepat. Jadi, ia menginginkan platform yang dapat membantunya bekerja lebih cepat dan menawarkan fleksibilitas. Oleh karena itu, ia beralih ke Blender untuk produksi film tersebut. “Kecepatan dan fleksibilitas Blender memungkinkan kami untuk fokus pada penceritaan daripada dibatasi oleh keterbatasan teknis,” katanya dalam sebuah wawancara dengan Blender.org.
Hal tersebut mengukuhkan konsep ngototlah soal visi kreatifmu, namun fleksibel dalam cara mengeksekusinya. Fleksibelitas ini dapat terjadi karena sejumlah keterbatasan, yang membuat harus mencari cara untuk tetap memuat inti dari apa yang dituju pada visi kreatifnya.
Saran yang dapat menjadi acuan yakni mulailah berkarya, serta siapa tahu segala keterbatasan dapat ditambal kemudian sambil jalan. Seiring dengan progres serta buah karya yang telah terlihat, bisa jadi dapat mencicil menambal segala keterbatasan yang ada.
Berdamailah dengan keterbatasan yang ada, serta mengupayakan karya dengan sebaik-baiknya.