Belajar Seni Bercerita Dari Film “Jumbo”

April 10, 2025
Buku

Arifin

Ada ragam hal yang dapat dimaknai dari film Jumbo. Salah satunya perihal seni bercerita. Karakter Don serta Nurman dapat menjadi acuan.

Pada Don, ia merupakan pencerita yang gigih. Buku dongeng buatan ayah dan ibunya kerap diceritakan kepada teman-temannya. Buku peninggalan orang tuanya tersebut merupakan kebanggaan sosok yang disematkan panggilan Jumbo tersebut.

Namun, cerita dari buku tersebut praktis hanya “bersambut” pada Don. Don untuk kemudian bersemangat mementaskan isi dari buku cerita tersebut, ketika menemukan lirik lagu beserta melodi pada bagian tersembunyi dari buku. Lagu Selalu Ada di Nadimu merupakan lagu ciptaan ibu Don.

Dari fondasi buku cerita tersebut ketika beralih wahana menjadi seni pertunjukan di atas panggung, berbagai persiapan pun dilakukan. Seperti dari kostum, dekorasi. Pun dengan bernyanyi dengan iringan gitar. Untuk urusan tersebut Don dibantu temannya Nurman dan Mae.

Kepingan puzzle penyempurna penampilan di panggung ditemukan pada Meri yang memiliki kemampuan, seperti menghadirkan gelembung ke seantero penonton.

Alih wahana dari buku cerita ke seni pertunjukan di atas panggung berhasil dengan sukses. Hal tersebut merupakan buah dari pondasi cerita yang menarik, kisah yang terasa personal dan mampu beresonansi, kemampuan mengeksekusi di panggung, beserta kejutan menarik pada penampilan lagu dan kemeriahan gelembung yang menyemarakkan suasana serta sejalur dengan konsep dongeng Kesatria Gelembung.

Masih dari karakter Don, seni bercerita juga dapat dikulik dari pembelajaran yang didapatkan sang karakter utama. Bagaimana Don menyadari perlunya belajar mendengarkan. Kemampuan mendengarkan merupakan bekal bagi setiap pencerita. Dari mendengar, bisa mendapatkan ragam ide, inspirasi, kisah. Di samping itu pada cerita, terdapat ragam karakter, maka mendengar merupakan salah satu cara untuk menjemput kekhasan karakter-karakter yang ada.

Mari beralih pada karakter Nurman. Pada bagian akhir dikisahkan pertunjukan dilakukan di markas geng Jumbo. Pemerannya adalah Nurman bersama tiga kambingnya, dengan ide cerita dari Nurman.

Bila boleh menelusuri, Nurman memiliki kebiasaan yang baik bagi pencerita yakni mencatat rupa-rupa hal. Nurman memiliki buku catatan yang senantiasa dibawanya. Di buku tersebut, Nurman mencatat dengan tulisan beserta gambar.

Mencatat merupakan cara menjemput ide, serta menangkap hal-hal yang menarik serta merupakan cara unik melihat dunia.

Dari film Jumbo, berbagai serba-serbi seni bercerita dapat ditemui. Seperti bagaimana melakukan alih wahana, pentingnya mendengarkan, serta urgensi mencatat.

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd