Mengajarkan Anak Berbagi
Arifin
Tren di media sosial dapat menjadi medium pembelajaran pula. Di antaranya #SharingChallenge, di mana anak akan “diuji” semangat berbaginya. Terdapat makanan yang tertutup bagi orang tua dan anak, lalu ketika tutup dibuka, anak mendapatkan bagian dobel, sedangkan salah satu orang tuanya tak mendapatkan makanan. Reaksi anak ketika singkap dibuka, serta kerelaannya berbagi menjadi sesuatu yang menarik.
Mengajarkan konsep berbagi bukanlah hal yang instan, karena di usia dini, anak masih belajar soal kepemilikan dan rasa aman. Ada pun konsep berbagi dapat ditilik pada jenjang umur tertentu. Anak biasanya mulai diajarkan berbagi sekitar usia 3 tahun. Pada usia tersebut mereka mulai memahami konsep bergiliran dan juga berbagi.

Dengan pemahaman tersebut, maka orang tua tidak perlu memaksa anak untuk berbagi bila memang belum masuk usia belajarnya. Anak perlu siap secara kemampuan kognitif dan emosional untuk memahami bahwa berbagi itu berkaitan dengan kepedulian, bukan perintah atau keharusan.
Bila dipaksa, anak dapat menganggap berbagi itu keharusan dan bukan pilihan. Khawatirnya nantinya anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengatakan tidak pada orang lain atau people pleasure.
Bila anak belum mau berbagi, hal tersebut bisa karena rasa kepemilikan yang masih kuat atau empati yang belum berkembang optimal. Orang tua dapat mengajarkan anak berbagi melalui permainan yang melibatkan bergiliran. Contohnya yakni bermain ayunan dalam tempo waktu 30 detik, lalu bergiliran memberikan kepada orang tuanya untuk bermain. Ulangi terus dalam tempo waktu tersebut secara bergiliran antara anak dengan orang tua.
Orang tua juga dapat menjadi teladan dalam berbagi. Misalnya memberikan hasil masakan kepada tetangga. Libatkan anak baik ketika memasak, maupun ketika membaginya ke tetangga.
Semangat berbagi juga dapat hadir melalui buku cerita, tontonan. Maka cobalah cari yang bertema berbagi. Pesan berbagi dengan medium tersebut dapat hadir secara halus serta berkesan bagi anak.
Berbagi juga dapat diupayakan di lingkup anak bersekolah, dengan berbagi bekal makanan yang dimilikinya.
Berbagi merupakan sifat yang perlu ditumbuhkan, dibiasakan bagi anak. Harapannya kebiasaan tersebut melekat terus hingga dewasa. Berbagi juga dapat mengikis egoisme, keserakahan, serta memahami bahwa hidup di dunia ini tidak sendiri serta perlu tolong menolong.