Bercerita Adalah Perkara Sudut Pandang
Arifin
Master of Suspense Alfred Hitchcock pernah mengatakan “There’s no terror in the bang, only in the anticipation of it.” Hitchcock menarik garis yang membedakan surprise dengan suspense. Katakanlah ada adegan dua orang yang sedang duduk di meja mengobrol, lalu tanpa ada pertanda apa-apa, bom tiba-tiba meledak. Itu namanya surprise. Penonton kaget, iya, tapi ya sudah, adegan itu cuma jadi satu momen.
Namun bagaimana jika diubah adegannya jadi begini: penonton diperlihatkan ada sosok yang meletakkan bom waktu di bawah meja, lalu datanglah dua orang duduk ngobrol tanpa tahu apa-apa, dengan satu jam dinding berdetak di belakang mereka. Menit-menit dan detik-detik menuju bom meledak akan jadi momen-momen tegang bagi penonton—ikut cemas, ikut gelisah.

Rasa takut yang sesungguhnya bukan saat bom itu meledak, tapi saat kita tahu ia akan meledak sewaktu-waktu.
Bercerita memang perkara sudut pandang. Suspense yang dicontohkan di atas membuat penonton tahu ada bom yang dapat membahayakan dua orang yang sedang duduk ngobrol tersebut. Dalam rumus penceritaan lainnya, berbagai karakter yang ada dapat dicicil pengetahuannya pada penonton. Dicicil pengetahuan mengenai karakter dapat membuat penonton terkecoh. Bisa jadi terjadi pergeseran simpati, dari suka jadi benci, dari benci jadi suka – dalam benak penonton.
Untuk mencicil pengenalan karakter, pencerita perlu jeli, tekun, serta sebaiknya memiliki peta cerita. Dengan peta cerita dapat memitigasi kemungkinan plot hole serta menjadi parameter telah sejauh mana pengetahuan penonton terhadap karakter tertentu.
Dalam cerita berbagai karakter juga memiliki sudut pandang masing-masing. Hal ini dapat menarik, hingga membuat penonton dapat mengalami dilema seperti yang dialami karakter-karakter dalam cerita.
Bercerita memang perkara sudut pandang. Pun bagi penikmat ceritanya bisa jadi telah memiliki sudut pandang yang berbeda seiring waktu, perubahan peran hidup, dan sebagainya. Bisa saja film favorit Anda, ketika dilihat dalam termin waktu yang berbeda, akan menemukan permaknaan yang berbeda. Ambil contoh pada cerita Doraemon, Anda yang menonton ketika duduk di bangku sekolah serta Anda yang menonton ketika telah berumur 30 tahun, lazimnya memiliki sudut pandang yang berbeda dari cerita yang sama.