Menilik Autisme Virtual Pada Anak Yang Terpapar Gawai Sejak Dini
Arifin
Anak usia 1-3 tahun yang kerap menggunakan gawai secara berlebihan dapat menyebabkan pola perilaku yang mirip autisme, namun, bukan autisme, yang disebut autisme virtual.
Hal tersebut merupakan istilah betulan yang ada di literatur, pola perilakunya mirip autisme. Autisme virtual menyebabkan anak mengalami gangguan kesulitan komunikasi sosial, perilaku repetitif dan perilaku yang tidak lazim. Meskipun intensitas gejala autisme virtual dapat sampai memenuhi kriteria diagnosis autisme, namun, ia berbeda dengan autisme.

Bila paparan gawai dikurangi, gejala dapat membaik secara cepat, seperti kontak mata saat berkomunikasi dan menunjukkan ekspresi wajah. Anak usia 1-3 tahun yang terpapar gawai dapat mengalami kekurangan pengalaman komunikasi dan pengalaman sosial yang sebenarnya.
Anak dapat menunjukkan perilaku autisme kalau misalnya dipanggil tidak merespon, kontak matanya kurang, ekspresi wajah kurang atau tidak sesuai. Itu karena kurang atau salah stimulasi.
Bila anak dengan autisme virtual menunjukkan perubahan setelah mengurangi penggunaan gawai, kondisi yang berbeda terjadi pada anak dengan autisme. Dia memiliki preferensi terhadap sifat berulang yang ada pada permainan gawai sehingga bisa memuaskan kecenderungan keinginan melakukan hal yang berulang atau repetitif. Meskipun penggunaan gawai sudah dikurangi, sifat autistik tersebut tetap ada.
Perilaku autistik masih akan tetap ada walau gawai itu sebagai faktor lingkungan bukan sebagai modifier (pengubah). Dapat saja anak dengan autisme ini mungkin perilaku ada perbaikan sedikit, tapi, sifat autistik masih akan tetap ada.
Faktor genetik berperan penting sebagai penyebab autisme. Seseorang memiliki risiko sembilan kali lebih besar ketika dia memiliki saudara kandung yang mengalami gangguan spektrum autisme (GSA).
Sumber: Antara