Saat Anak Tidak Diajak Main Teman-Temannya
Arifin
Menyaksikan Don pada film Jumbo mengingatkan pada Nobita. Keduanya sama-sama ingin diterima dalam pergaulan. Keduanya ingin diajak bermain kasti. Namun, baik Don maupun Nobita kerap tidak diajak bermain kasti. Kalaupun diajak, praktis karena kekurangan orang, serta Don ataupun Nobita kurang ahli dalam kasti hingga menjadi faktor penyebab kekalahan.
Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh orang tua bila apa yang dialami Don/Nobita terjadi pada anak Anda? Orang tua selaiknya terbiasa berdialog dengan anak. Dengan terbiasa berdialog, hal-hal yang dialami anak dapat diceritakan. Bagaimana pikiran, perasaanya telah terbiasa tersampaikan dalam dialog.

Dengan terbiasa berdiskusi, maka bila kejadian anak tidak diajak main teman-temannya, orang tua akan mengetahui hal tersebut. Orang tua mula-mula dapat memvalidasi emosi, perasaan anak ketika mengalami hal tersebut.
Orang tua juga dapat menguatkan anak, bahwa walaupun tidak diajak main teman-temannya, namun ananda penting serta berharga.
Melalui diskusi, orang tua juga dapat menggali duduk perkara serta apa yang sebaiknya dilakukan. Orang tua dapat mengupayakan agar anak melihat sudut pandang lainnya. Katakanlah pada Don serta Nobita – perihal tidak diajak main karena kurang ahli juga menjadi faktor penyebab kekalahan. Simulasikan situasi pada point of view (POV) anak lainnya yang ingin menang serta berkompetisi. Maka dengan begitu, orang tua dapat membantu, misalnya dengan mengembangkan keterampilan anak yang masih kurang di bidang tertentu. Bila anak lebih ahli dalam permainan tersebut, maka sewajarnya anak pun dapat turut serta bergabung bermain bersama teman-temannya.
Dengan menilik POV lain, maka dapat menjadi cermin, bahwa bisa jadi logis pula tak diajak, karena memang masih belum cukup terampil dalam permainan tersebut.
Berdiskusi dengan anak juga dapat mengeksplorasi kemungkinan bahwa ada permainan lainnya di mana anak diajak, serta anak ahli dalam permainan tersebut.