Makan Yang Tak Hanya Untuk Bertahan Hidup
Arifin
Film Hunger membawa penonton menyelami makna makan. Secara fungsi dasar, makan dibutuhkan agar manusia dapat bertahan hidup. Makan memiliki ragam fungsi lainnya. Seperti fungsi untuk menunjukkan kelas sosial serta validasi diri. Hal tersebut seperti ditunjukkan pada para penyantap makanan dari Chef Paul pada film dari Thailand tersebut. Dibutuhkan biaya mahal, serta mengantre, untuk mendapatkan layanan prima dari Chef Paul beserta timnya.

Makan di tempat makan tertentu merupakan pencapaian serta menunjukkan sisi fear of missing out (FOMO). Hal tersebut seperti ditunjukkan pada restoran Flare di mana Aoy telah menjadi chef di sana. Perihal sulitnya mendapatkan meja di sana, ataupun berfoto dengan latar dapur terbuka di mana api menyala dengan hebat.
Makan juga dapat menjadi momen memorable serta menyatukan orang-orang. Hal tersebut seperti diperlihatkan ketika kwetiau rewel dihidangkan oleh ayah Aoy di kedai sederhananya. Ada kegembiraan makan bersama antara keluarga dan teman.
Makan, juga terkait metode hingga makanan sampai ke mulut. Adakah menggunakan tangan, sumpit, sendok, garpu. Sebut saja beberapa makanan yang langsung menggunakan tangan dalam menyantap. Seperti yang sempat viral saat menikmati nasi padang, lebih nikmat menggunakan tangan atau sendok? Di samping itu, keterampilan menggunakan ragam peralatan seperti sumpit, sendok, garpu, pisau, juga menunjukkan bagaimana selaiknya menyantap dengan tata krama.
Makan, tak sekadar memuaskan perut, namun juga ada kepuasan visual. Maka tak mengherankan tata tampilan makanan dibuat semenarik, seestetik mungkin. Pun tempat makan yang Instagramable, serta asyik untuk foto-foto.
Makan juga dapat menjadi petualangan. Seperti wisata kuliner, mencoba ragam makanan yang belum pernah dicicipi sebelumnya. Saat vakansi, berupaya menemukan kuliner otentik yang khas di tempat tersebut. Ataupun berusaha menemukan hidden gem terkait kuliner.