Pendidikan Yang Mendengarkan Suara Anak
Arifin
Saat mendidik anak, telahkah ayah-bunda mendengarkan suara anak? Anak bukanlah objek, melainkan subjek, sehingga perlu ditumbuhkan kehendaknya. Di antaranya dengan kenyamanan, keberaniannya mengungkapkan apa yang dipikirkan dan dirasakannya.
Anak, merupakan manusia kecil yang harus dihormati. Maka dengarkan suara anak ketika mengungkapkan apa yang di pikirannya dan di perasaannya. Bila ayah-bunda menyangkal, meredam, menihilkan, pikiran serta perasaan anak, maka anak bisa jadi kapok untuk menyuarakan kehendaknya. Anak dapat merasa tak didengar pikiran dan perasaannya.

Apa saja yang dapat dilakukan untuk menghadirkan pendidikan yang mendengarkan suara anak? Dalam hal ini, orang tua serta anak perlu pembiasaan. Maka dalam keseharian, bagi orang tua biasakanlah untuk mendengarkan suara anak, sedangkan anak dapat diberikan ruang nyaman, aman untuk bersuara.
Orang tua dan anak dapat membiasakan berdiskusi, saling bercerita. Dengan begitu suara anak menjadi bagian dari keseharian. Orang tua dapat mendengarkan masukan anak, misalnya tentang pilihan makanan yang ingin disantap, ingin bepergian ke mana, serta aktivitas bersama yang mau dilakukan.
Dengan terbiasa berdiskusi, saling bercerita – baik orang tua dan anak akan mengetahui pikiran dan perasaan masing-masing. Dengan terbiasa berdiskusi, saling bercerita, maka pertanyaan-pertanyaan dari anak boleh tumbuh. Pun dengan jawaban-jawaban dari anak. Dari situlah orang tua dan anak dapat saling memahami dan belajar.
Orang tua yang terbiasa mendengarkan suara anak, maka dapat mengetahui hal yang disukai dan tidak disukainya. Anak sedang tertarik pada apa. Anak sedang berminat pada apa. Hal tersebut juga berguna untuk pendidikan personal yang dihadirkan kepada anak. Misalnya, mengikutsertakan anak pada les yang sesuai dengan hal yang sedang diminati anak.
Mendengarkan suara anak juga memungkinkan untuk mengetahui gaya belajar anak sehingga orang tua dapat memfasilitasi secara tepat.