Tren Kembali Ke Era 90-An
Arifin
Tren dapat menghadirkan kembali ke era lampau. Salah satunya yang menarik disimak yakni kembali ke era 90-an. Seperti para Gen Z yang terlahir di era digital, namun jatuh hati pada kaset pita, fashion oversized, diary fisik, walkman, kamera analog.
Tak hanya sampai situ, terdapat fenomena untuk memakai dumb phone, tidak memiliki media sosial ataupun pasif di medsos, serta dapat diistilahkan sebagai klub offline. Pada klub offline, mengedepankan berbincang-bincang, bercengkerama, bermain board game, “terlepas” dari online, serta putus hubungan dengan digital selama beberapa waktu.

Sementara itu, beberapa film yang menarik perhatian publik juga memiliki nuansa 90-an. Sebut saja pada film Dilan, yang “menyegarkan” kembali ingatan tentang telepon umum, telepon rumah.
Lalu pada film Jumbo, dengan kenangan akan balon tiup. Film Jumbo juga menghadirkan betapa serunya sejumlah momen bagi anak 90-an yakni lapangan luas yang menjadi tempat lari-larian, menandai kalender buat menunggu hari spesial, mendengarkan radio sambil nungguin lagu favorit, hingga ikut lomba panjat pinang yang penuh tantangan.
Tren kembali ke 90-an bukan tanpa alasan. Merayakan 90-an di antaranya bak pelarian dari dunia kini yang terlalu cepat. Era 90-an seperti dilansir pandemic talks terasa lebih “hangat”, lambat, dan punya ruang jeda. Di samping itu semuanya seolah lebih sederhana.
Di tengah dunia kini yang dikenal dengan istilah era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity), sebuah kondisi di mana perubahan terjadi sangat cepat, tidak pasti, kompleks, dan ambigu – tren kembali ke-90-an menjadi coping mechanism.