Mengurangi Kegiatan Yang “Menguras Energi”
Arifin
Seperti layaknya klub sepak bola yang akan mengarungi musim kompetisi baru. Tak hanya memikirkan asupan pemain baru, namun juga mendepak pemain yang tidak sesuai dengan skema permainan dari klub. Hal semacam itu juga dapat berlaku pada diri. Tak hanya sekadar memikirkan kebiasaan baik apa yang perlu ditumbuhkan, melainkan juga memangkas kebiasaan yang “menguras energi”.

Dengan memangkas kebiasaan yang “menguras energi”, maka Anda dapat berfokus pada hal-hal yang penting. Apa saja yang dapat dipangkas? Di antaranya berpikir secara berlebihan (overthinking). Kita memang perlu merencanakan, mensimulasikan di kepala, namun terlalu overthinking juga dapat menghentikan langkah serta akhirnya tidak melangkah ke mana-mana. Melangkahlah, buat sesuatu, perbaiki kemudian.
Kegiatan yang “menguras energi’ berikutnya yakni berfokus pada sesuatu yang di luar kendali. Kenali batasan diri, kelola ekspektasi. Berbuatlah yang terbaik sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.
Kegiatan yang “menguras energi” bisa berupa keinginan yang terlalu banyak dalam satu hari. Atur keinginan, berusaha memenuhi daftar Anda pada hari-hari yang ada. Hal yang besar dapat dimulai dengan yang kecil meski kemajuannya perlahan.
Seperti filosofi pohon bambu, saat ditanam bambu tidak tumbuh tinggi selama hampir lima tahun kelihatannya, namun sebenarnya di bawah tanah, fokus membentuk jaringan akar yang lebar dan kuat. Setelah 5 tahun itu pohon bambu tumbuh satu meter sehari dan cepat banget tumbuh batang dan daun-daun. Maka teruslah berupaya merampungkan target-target harian yang terlihat “kecil” itu, hal tersebut mengasah kebiasaan, seperti atomic habits yang bila diakumulasi terlihat progresnya.
Kegiatan “menguras energi” lainnya yakni mengonsumsi informasi terlalu banyak. Pilah pilihlah informasi yang diperlukan dalam sehari-hari. Adakah informasi yang diasup bermanfaat serta dapat menambah nilai diri.
Kegiatan “menguras energi” yang dapat dipangkas yakni membandingkan diri dengan orang lain. Memang tidak harus 100%, namun perlu juga diingat bahwa tiap orang memiliki latar berbeda, pilihan berbeda, termasuk kebahagiaan yang berbeda. Membandingkan dengan orang lain selaiknya sebagai motivasi untuk lebih baik secara personal.