Pengalaman Bermakna Selama Liburan Anak
Arifin
Di Indonesia, pada Senin (14/7) tahun ajaran baru telah dimulai. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah mengiringi hari-hari awal para siswa. Apa saja pengalaman bermakna yang dialami anak sebelum kembali masuk ke sekolah?
Hendaknya para orang tua, guru, teliti memilih pertanyaan ketika bertanya pada anak. Sebaiknya hindari pertanyaan: “pergi ke mana selama liburan?”. Hal tersebut dapat mengecilkan hati bagi anak yang tidak melakukan vakansi. Orang tua serta guru dapat menanyakan: “pengalaman menarik yang dialami anak selama liburan”. Pertanyaan tersebut lebih inklusif untuk dijawab oleh anak. Dikarenakan di rumah saja pun sesungguhnya dapat menjadi pengalaman menarik bagi anak selama liburan.

Pengalaman bermakna selama liburan anak, dari sisi orang tua dapat diupayakan dengan menimbang keinginan dan kebutuhan anak. Bila dapat mewujudkannya, cobalah lakukan. Selama liburan, anak dapat melakukan olah hati (etik), olah pikir (literasi), olah rasa (estetik), dan olahraga (kinestetik). Itulah kebutuhan anak. Untuk mewujudkan kebutuhan anak dapat disesuaikan dengan kemampuan keluarga serta pandai-pandailah mencari cara yang dapat menstimulasi kebutuhan anak tersebut.
Orang tua yang hadir, mindful saat liburan anak juga penting adanya. Membersamai anak dalam keseharian selama liburan. Manakala mindful, maka dari berbincang, bermain pun dapat bermakna. Di samping itu dapat mengadakan aktivitas di rumah yang pas ataupun bepergian spontan ke tempat yang menarik.
Pengalaman selama liburan yang beragam, mencoba hal baru, juga bisa menjadi hal yang berkesan bagi anak. Yang dapat difokuskan orang tua adalah mengupayakan liburan anak bermakna.
Seperti istilah Proust Effect – fenomena di mana memori serta-merta terpicu oleh aroma yang tercium, rasa di lidah, bahkan suara yang didengar. Maka orang tua tidak dapat menakar hal mana yang memicu, melainkan mengupayakan dengan menghadirkan pengalaman-pengalaman bermakna dengan anak.
Selama liburan anak juga merupakan kesempatan bagi anak untuk bersentuhan dengan berbagai realitas sosial, kenyataan hidup keseharian, hal yang memberikannya bekal sebagai pribadi dan makhluk sosial.