Suara, dari Audiobook hingga Rona Kenangan
Arifin
Penulis Ahmad Fuadi melalui akun Instagram-nya mengabarkan tentang versi audiobook dari novelnya “Ranah 3 Warna”.
“Situasi Indonesia sekarang, yang orang penuh kesibukan, kemacetan, dan lain-lain, kehadiran audiobook mungkin merupakan alternatif,” tutur alumnus Pondok Pesantren Gontor ini.
“Biar hidup bervariasi. Jika lelah atau bosan membaca, kenapa tidak mendengarkan buku dibacakan orang lain? Saya sudah mencoba, ternyata asyik juga. Seperti didongengin,” tulis A.Fuadi pada takarir Instagram-nya.
Audiobook, diksi tersebut terpantik di ingatan saya ketika mewawancara anak berkebutuhan khusus tunanetra. Ia bersyukur kini telah semakin banyak buku dalam versi audiobook, yang memungkinkannya untuk mereguk makna dan kisah pada pustaka-pustaka tersebut.
Masih ada irisannya dengan suara, saya pernah beberapa hari mengendarai motor sembari mendengarkan wawancara narasumber. Hal tersebut selain membantu saya untuk tetap awas dalam berkendara, juga membuat saya dapat menggunakan waktu yang ada untuk lebih mengerti tentang tema yang diperbicangkan narasumber.
Kali ini terkait suara dan pembelajaran. Saya teringat dengan kaset-kaset latihan Bahasa Inggris ketika kursus dulu. Ataupun tes TOEFL yang salah satu dimensinya adalah listening. Pada sesi tersebut, selain pasang kuping mengenai diksi, sekiranya inti dari percakapannya apa, juga dibutuhkan konsentrasi dan keawasan pikiran.
Saya pun teringat dengan perkiraan yang ternyata meleset. Radio yang dianggap akan punah seiring kehadiran televisi. Namun, simaklah kini radio masih eksis, pun bermunculan podcast yang nyaman untuk didengarkan di sela kesibukan, kemacetan.
Masih terkait suara, sebuah film pendek dari lagu “Tenang” begitu kuat menggedor perasaan. Dikisahkan tokoh utama Gus bermimpi tentang bapaknya. Dalam mimpinya terdapat perayaan ulang tahun dimana Gus kecil bersama ayah dan ibunya.
“Aku mimpi almarhum bapak. Di mimpi tadi bapak ga ada suaranya. Aku kok ga bisa inget suara bapak kayak gimana ya?” ucap Gus.
Berawal dari situ, Gus (Ringgo Agus Rahman) untuk kemudian mencari dan menemukan rekaman video. Video yang telah rusak tersebut, coba diperbaiki dan terdapat 10 detik yang masih dapat diselamatkan. Terdapat potongan suara bapaknya, “bisa gus?”, pada 10 detik rekaman video yang masih bisa diselamatkan.
Suara, hal yang dapat terkait dengan indra pendengaran. Namun, dari film pendek “Tenang” tersebut, semakin mafhumlah saya, bahwa suara tak hanya soal apa yang didengar, ternyata dapat begitu kompleks dan rumit makna yang dapat diapitnya, termasuk rindu dan kenangan.